Komisi D DPRD Surabaya Soroti Radikalisme Lewat Game Daring dan Keterlambatan Tunjangan Guru Agama

Komisi D DPRD Surabaya Soroti Radikalisme Lewat Game Daring dan Keterlambatan Tunjangan Guru Agama

Anggota Komisi D DPRD Surabaya Imam Syafi’i menyoroti ancaman radikalisme dan tunjangan guru agama.--

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Komisi D DPRD Surabaya menyoroti penyebaran paham radikalisme melalui game daring yang menyasar pelajar SMP.  selain itu juga soal keterlambatan pencairan tunjangan profesi guru agama,

Fakta tersebut terungkap dalam rapat dengar pendapat antara Komisi D DPRD Surabaya dan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Surabaya.

Berdasarkan informasi Densus 88 Antiteror yang diteruskan Kemenag Kota Surabaya, ditemukan seorang siswa SMP negeri di Surabaya yang terpapar paham radikal hingga melakukan baiat kepada kelompok teroris.

Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Imam Syafi’i, mengatakan pola doktrinasi kelompok ekstremis kini memanfaatkan wahana digital, salah satunya game daring Roblox. Korban yang terpapar bahkan sempat melontarkan niat berbahaya akibat perundungan yang dialaminya.

"Anak ini terpapar dan bahkan saat dimintai keterangan mengaku ingin membunuh teman sekolahnya yang melakukan bullying. Saat ini yang bersangkutan sedang menjalani proses deradikalisasi dan dipondokkan di pesantren," ungkap Imam Syafi’i.Kamis 30 Juli 2026.

BACA JUGA:Ratusan Warga Surabaya Barat Mengadu ke DPRD Usai Program PTSL Gratis Batal


Gempur Rokok Illegal--

Melihat kondisi tersebut, Imam mendesak Pemerintah Kota Surabaya bersama dinas terkait memperketat pengawasan terhadap aktivitas digital anak.

Menurutnya, benteng utama dalam membendung penyebaran ideologi berbahaya berada di tangan para pendidik, khususnya guru agama. Sayangnya, peran vital guru agama tersebut sempat terganjal persoalan administratif.

Dalam rapat dengar pendapat tersebut, Komisi D DPRD Surabaya menyayangkan keterlambatan pencairan tunjangan profesi guru (TPG) agama yang tertunda selama beberapa bulan.

Imam menilai kondisi tersebut ironis di tengah meningkatnya ancaman radikalisme terhadap pelajar.

"Terhambatnya tunjangan dikhawatirkan menurunkan semangat para guru dalam memberikan penguatan nilai moral, spiritual, dan kebangsaan. Kami berharap tidak ada lagi penundaan berlarut-larut," tegasnya.

BACA JUGA:Gelar Reses di Gayungan, Ketua DPRD Jatim Soroti Pentingnya Pelatihan Kerja untuk Tekan Angka Pengangguran

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Surabaya, Muhammad Muslim, memastikan seluruh tunjangan profesi guru agama telah dicairkan. Ia mengatakan seluruh dana tunjangan telah ditransfer ke rekening masing-masing penerima pada 24 Juli 2026.

Muslim menjelaskan, keterlambatan pembayaran selama dua hingga tiga bulan tersebut murni disebabkan keterlambatan anggaran dari pemerintah pusat.

"Kendalanya karena anggaran dari pusat memang belum ada saat itu. Begitu dana tambahan kurang lebih sebesar Rp 14 miliar turun, langsung kami prioritaskan untuk dicairkan. Alhamdulillah, tanggal 24 kemarin sudah cair semua, jadi sudah selesai," terang Muslim.

Dari hasil rapat evaluasi tersebut, Kemenag Kota Surabaya dan Komisi D DPRD Surabaya sepakat memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat agar pencairan anggaran pada masa mendatang tidak kembali mengalami keterlambatan. (alf)

 
 
 

Sumber:

Berita Terkait