Suatu pagi, warga gempar karena Epu dan becak tuanya yang terbengkalai mendadak hilang. Bu Marni berteriak,
“Pak RT! Pak RT!” “Epu hilang lagi!”
BACA JUGA:Cinta yang Kalah oleh Waktu (1): Cinta yang Tumbuh di Antara Serbuk Kayu
Pak RT yang panik bertanya, “Sudah dicari ke pasar?”
BACA JUGA:Becak Tua dan Cinta yang Tak Kembali (4): Jangkar Kesedihan dan Keikhlasan yang Pahit
“Belum. Tapi becaknya juga gak ada.” Jawab Bu Marni
Mini kidi--
Di meja rumah Epu, ditemukan surat bertuliskan: “Sin, hari ini aku narik becak lagi. Biar kita bisa makan enak.”
Air mata Bu Marni tumpah seketika, melelehkan sisa-sisa ketegarannya.
BACA JUGA:Cinta yang Kalah oleh Waktu (2): Antara Janji dan Palu Sidang sebelum Lebaran
Pencarian pun berlanjut, membentang hingga matahari melintasi puncak kepala. Sebagian warga menyisir riuk pasar, sebagian lagi mendatangi kompleks pemakaman yang dingin. Nihil. Hingga seorang tukang ojek berhenti melayangkan kabar:
“Yang ngontel Epu, Pak.”
Pak RT bertanya, “Ke mana?”
BACA JUGA:Becak Tua dan Cinta yang Tak Kembali (3): Kursi Kosong dan Senyum yang Menyayat
Tukang ojek menjawab, “Ke arah jalan tempat istrinya dulu kena begal.”