Becak Tua dan Cinta yang Tak Kembali (5): Sakitnya Mengingat yang Telah Pergi

Jumat 23-10-2026,06:09 WIB
Reporter : Anis Tiana Pottag
Editor : Ferry Ardi Setiawan

Kata-kata itu jatuh bagai kutukan. Pak RT terpaku, sedang Bu Marni membekap mulutnya sendiri.

Di sebuah ceruk jalan yang sunyi—di mana angin berembus membawa aroma trauma—Epu ditemukan terduduk di atas jok becaknya. Keringat meleleh di pelipisnya, napasnya memburu bagai mesin tua yang dipaksa melaju. Di jok belakang, terkulai sebuah kantong plastik transparan berisi dua bungkus nasi.

BACA JUGA:Cinta yang Kalah oleh Waktu (3): Saat Cinta Tak Cukup Melawan Kerasnya Realita Hidup

“Pu!” panggil seseorang. 

Epu menoleh pelan, “Pak RT?”

“Kamu ngapain di sini?” tanya Pak RT. 

Epu tersenyum, “Aku mau jemput Sinta.” 

Pak RT membujuknya, “Pu, ayo pulang.”

BACA JUGA:Cinta yang Kalah oleh Waktu (4): Lebaran Hampa dan Garis Hidup yang Berlawanan

“Tunggu sebentar. Sinta belum datang.” jawab Epu. 

Bu Marni bertanya, “Itu buat siapa, Pu?”

“Satu buat aku. Satu buat Sinta.” ujar Epu.

“Tadi aku beli lauk kesukaan dia.” Epu melanjutkan, 

BACA JUGA:Becak Tua dan Cinta yang Tak Kembali (2): Jiwa yang Tertinggal di Malam Kelam

“Di sini Sinta terakhir lewat, Bu.” 

“Katanya cuma pergi sebentar. Aku sudah nunggu lama, tapi dia gak pulang.” Ia menatap jalanan kosong

Kategori :