iklan ucapan polri-2
pupuk
iklan ulta memorandum

Becak Tua dan Cinta yang Tak Kembali (4): Jangkar Kesedihan dan Keikhlasan yang Pahit

Becak Tua dan Cinta yang Tak Kembali (4): Jangkar Kesedihan dan Keikhlasan yang Pahit

-Ilustrasi-

Malam itu, Epu berlari tanpa sandal, tanpa arah, dipandu keyakinan retak yang menyerupai ombak membentur karang: 

Pukul sebelas malam, di bawah rembulan yang pucat, Epu ditemukan mengetuk rumah seorang warga. Tangannya meninju kayu pintu dengan keputusasaan yang suci.

“Bukakan, Sin!”

BACA JUGA:Becak Tua dan Cinta yang Tak Kembali (3): Kursi Kosong dan Senyum yang Menyayat

Pemilik rumah keluar, terganggu dari lelap. “Pu! Ini rumah saya!”


Mini kidi--

Epu menerobos kabut di kepalanya. “Sinta mana?”

“Gak ada Sinta di sini!”

“Tadi aku lihat dia masuk.”

“Gak ada! Pulang sana!”

Brak! Pintu dibanting, bergema di lorong malam. Epu terduduk di depan pagar, menangis dalam kesepian yang menggigil. 

“Aku salah rumah lagi, ya, Sin?”ucap Epu

Tiba-tiba sekelompok pemuda datang menyuguhkan tawa hampa—seperti kaleng kosong diseret di atas batu. Mereka mempermainkan harapan seorang lelaki yang kehilangan jiwa pascameninggalnya sang kekasih.

“Pu, Sinta di pasar!”

Sumber:

Berita Terkait