Pak RT lalu bertanya, “Pu, kamu masih ingat Sinta sudah meninggal?”
Epu menangis dan menjawab, “Ingat, Pak.”
“Aku ingat Sinta sudah dikubur.” Sambil menepuk dadanya, Epu meluapkan kepedihannya,
“Tapi kalau aku ingat dia sudah meninggal, rasanya sakit sekali. Sakit di sini, Pak.”
BACA JUGA:Cinta yang Kalah oleh Waktu (5): Saat Restu Keluarga Kalah oleh Kenangan
“Makanya kadang aku pura-pura dia masih ada.”
Epu mengenang kebaikan istrinya, “Dulu setiap pulang narik, Sinta selalu nunggu. Kalau aku dapat uang sedikit, dia bilang gak apa-apa. Kalau aku capek, dia pijitin kakiku. Kalau aku sedih, dia bilang besok pasti lebih baik.”
Lalu ia bertanya, “Sekarang kalau aku capek, siapa yang mau bilang begitu?”
Bu Marni berusaha menenangkan, “Kami masih ada, Pu.”
Namun Epu menggeleng, “Tapi kalian bukan Sinta.”
BACA JUGA:Cinta yang Kalah oleh Waktu (6): Akhir Perjalanan Cinta Koko dan Dira
Pak RT menasihatinya, “Pu, kamu gak harus melupakan Sinta, Tapi kamu juga harus tetap makan. Tetap istirahat. Tetap menjaga dirimu.”
Epu bertanya, “Untuk siapa, Pak?”
“Untuk dirimu sendiri.” jawab Pak RT.
Epu menunduk pasrah, “Aku gak tahu caranya.”
BACA JUGA:Becak Tua dan Cinta yang Tak Kembali (1): Setelah Sinta Pergi, Epu Tak Pernah Pulang