iklan ucapan polri-2
pupuk
iklan ulta memorandum

Becak Tua dan Cinta yang Tak Kembali (1): Setelah Sinta Pergi, Epu Tak Pernah Pulang

Becak Tua dan Cinta yang Tak Kembali (1): Setelah Sinta Pergi, Epu Tak Pernah Pulang

-Ilustrasi-

Matahari merayap di atas genting-genting seng yang berkarat, memantulkan pijar yang lelah di jalanan desa yang berdebu. Pagi tidak pernah datang dengan kepastian yang utuh bagi Epu; ia datang bersama gema suara yang merangkak dari lorong-lorong ingatan, menyeret langkah kaki yang goyah di atas aspal yang retak.

BACA JUGA:Cinta yang Kalah oleh Waktu (1): Cinta yang Tumbuh di Antara Serbuk Kayu

“Sinta… tunggu aku, Sin…”

Suara itu hampir setiap pagi terdengar di jalanan sebuah desa kecil.

Waktu seolah berhenti di tikungan itu—tikungan di mana takdir merenggut apa saja yang pernah membuat Epu merasa memiliki bumi. Seorang lelaki berjalan tanpa tujuan. Rambutnya kusut, pakaiannya lusuh, dan sandal yang dikenakannya sudah hampir putus. 


Mini kidi--

Ia berjalan menenteng sisa-sisa kewarasan yang tinggal seutas benang, menyeret bayang-bayang seorang perempuan yang telah lama berpulang ke dalam tanah. Kadang ia tertawa sendiri. Kadang menangis. Kadang berhenti di depan rumah seseorang hanya untuk bertanya,

“Lihat Sinta lewat sini?”

Orang-orang sudah mengenalnya. Dan pengenalan itu melahirkan rasa iba yang bercampur risau, sebuah beban kolektif yang tak seorang pun tahu bagaimana cara memikulnya.

Namanya Epu.

BACA JUGA:Cinta yang Kalah oleh Waktu (2): Antara Janji dan Palu Sidang sebelum Lebaran

Dahulu ia seorang tukang becak yang rajin bekerja. Lelaki sederhana yang tak pernah malu mencari nafkah dengan mengayuh becak dari pagi hingga petang. 

Bagi Epu, keringat yang menetes di keningnya adalah puisi tentang ketulusan—tentang bagaimana ia merawat hidup dengan sepasang kaki yang tak pernah lelah memutar pedal.

Namun sekarang becaknya hanya terparkir di samping rumah. Bannya kempis. Rantainya berkarat.

Sumber:

Berita Terkait