Lari ke Pelukan Wanita Lain: Ternyata Dia Cinta Pertamanya (2)

Selasa 10-02-2026,09:00 WIB
Reporter : Anis Tiana Pottag
Editor : Ferry Ardi Setiawan

Namun Bulan tahu, tidak semua hubungan kembali menjadi netral hanya karena waktu berlalu. Ada yang tetap menyisakan ruang, terutama jika ruang itu tidak pernah benar-benar ditutup.

“Setiap kali kita bertengkar, kamu ke dia,” kata Bulan pelan. “Itu bukan kebetulan.”

Bintang membela diri. “Dia ngerti aku.”

Jawaban itu lebih menyakitkan dari pengakuan apa pun.

“Lalu aku apa?” tanya Bulan. “Orang yang harus kamu hadapi, sementara dia tempat kamu merasa nyaman?”

Bintang tidak menjawab. Ia sendiri mulai menyadari sesuatu yang selama ini ia hindari: bersama Berlian, ia merasa seperti versi dirinya yang lebih ringan, lebih muda, lebih tidak terbebani tanggung jawab. 

Tidak ada tagihan, tidak ada anak, tidak ada realitas rumah tangga. Hanya nostalgia dan pengertian tanpa tuntutan.

Namun pernikahan bukan tentang nostalgia. Pernikahan adalah tentang memilih setiap hari, bahkan ketika tidak nyaman.

Bulan berdiri dari kursinya dan berkata dengan tenang, “Aku tidak takut dengan masa lalu kamu. Aku takut kamu belum benar-benar selesai dengannya.”

Malam itu, untuk pertama kalinya, Bintang tidak pergi. Ia duduk diam di ruang tamu, memikirkan kalimat itu. 

Selama ini ia mengira yang ia lakukan hanya mencari teman bicara. Tapi mungkin yang ia cari adalah perasaan lama yang belum pernah benar-benar ia lepaskan.

Dan jika benar Berlian adalah cinta pertamanya, maka pertanyaannya bukan lagi tentang siapa yang datang lebih dulu.

Melainkan siapa yang benar-benar ia pilih sekarang.

Kategori :