Di Antara Dua Kota: Ketika Aku Berhenti Menunggu (3)
-Ilustrasi-
BINTANG pulang tanpa memberi kabar.
Ia berdiri di depan rumah yang dulu selalu menyambutnya dengan pelukan panjang dan mata yang basah karena rindu. Kali ini pintu terbuka seperti biasa, namun tidak ada lari kecil yang mendekat. Tidak ada kalimat, “Akhirnya kamu pulang.”
Bulan tersenyum sopan. “Masuk.”

Mini Kidi Wipes.--
Nada itu asing.
Di meja makan, suasana terasa rapi. Anak mereka bercerita tentang sekolah, Bulan menanggapi dengan ringan, dan Bintang merasa seperti tamu yang sedang dijamu dengan baik.
“Kamu kelihatan… beda,” katanya akhirnya.
Bulan menatapnya, tidak defensif, tidak juga lembut seperti dulu. “Aku cuma belajar.”
“Belajar apa?”
“Belajar kalau rindu nggak bisa dipaksa dua arah.”
Kalimat itu membuat Bintang terdiam.
Selama ini ia berpikir yang paling berat dalam LDR adalah menahan godaan. Ia tidak pernah benar-benar mengkhianati. Tidak ada batas yang ia langgar secara fisik. Namun ia lupa satu hal: kehadiran bukan hanya soal tubuh, tapi soal perhatian.
“Kamu marah?” tanya Bintang pelan.
Bulan menggeleng. “Aku capek.”
Sumber:




