Lari ke Pelukan Wanita Lain: Aku Bukan Pilihan (3)
-Ilustrasi-
MALAM itu tidak ada suara tinggi. Tidak ada tangisan. Hanya percakapan yang akhirnya jujur.
Bulan duduk berhadapan dengan Bintang di ruang tamu yang terasa asing, meski mereka sudah bertahun-tahun tinggal di sana.

Mini Kidi--
“Aku cuma mau tanya satu hal,” kata Bulan pelan. “Kalau kamu harus memilih tanpa ragu, kamu akan memilih siapa?”
Bintang tidak langsung menjawab. Ia menatap lantai, lalu menatap Bulan, lalu kembali terdiam. Dan dalam diam itulah Bulan menemukan jawabannya.
“Aku nggak pernah minta kamu menghapus masa lalu,” lanjut Bulan. “Aku cuma nggak mau jadi cadangan dari sesuatu yang belum selesai.”
Bintang menghela napas panjang. “Kamu tahu aku sayang kamu.”
Bulan tersenyum tipis. “Sayang itu bukan pilihan. Itu perasaan. Tapi menikah itu pilihan. Dan setiap kali ada masalah, kamu selalu memilih pergi ke dia.”
Bintang mencoba membela diri. “Berlian cuma teman.”
“Teman yang selalu kamu cari saat kita bertengkar,” potong Bulan tenang. “Teman yang tahu keluh kesah rumah tangga kita lebih banyak daripada aku tahu isi kepalamu.”
Bintang terdiam. Untuk pertama kalinya, ia melihat dirinya sendiri dari sudut yang berbeda.
Ia tidak berselingkuh secara fisik. Ia tidak melanggar batas yang jelas. Tapi ia melanggar sesuatu yang lebih halus: kepercayaan.
“Aku bukan pilihan,” kata Bulan pelan, namun tegas. “Aku istri. Kalau aku harus bersaing dengan cinta pertamamu untuk dapat perhatianmu, berarti sejak awal aku tidak pernah benar-benar dipilih.”
Kalimat itu seperti menutup semua ruang pembelaan.
Sumber:




