Menjandakan Istri Demi Janda: Penyesalan yang terlambat (3)
-Ilustrasi-
WAKTU berjalan, dan hidup baru Bintang tidak lagi terasa baru.
Arumi tetap menjadi istri yang baik. Ia perhatian, ia berusaha, ia tidak pernah membandingkan dirinya dengan Bulan secara terbuka. Namun ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar hilang: kegelisahan.

Mini Kidi--
Setiap kali ponsel Bintang bergetar, Arumi menoleh. Bukan karena curiga berlebihan, tetapi karena ia tahu satu hal laki-laki yang mampu meninggalkan istrinya demi dirinya, adalah laki-laki yang pernah memilih pergi.
Suatu malam, Arumi berkata dengan suara pelan, “Aku kadang bertanya-tanya… waktu kamu meninggalkan Bulan, apa kamu juga merasa yakin seperti ini?”
Bintang terdiam. Dulu ia merasa yakin. Ia menyebutnya keberanian. Ia menyebutnya kejujuran pada diri sendiri. Tapi kini, dalam keheningan rumah yang tidak lagi terasa ringan, ia mulai menyadari bahwa keyakinan itu lebih mirip dorongan sesaat daripada keputusan matang.
Di sisi lain kota, Bulan tidak lagi membicarakan masa lalu. Ia bekerja, ia tersenyum, ia membangun hidupnya sendiri tanpa perlu membuktikan apa pun. Suatu sore, Bintang melihatnya dari kejauhan di sebuah acara sekolah. Bulan tertawa bersama anak-anak, wajahnya tenang.
Ia mendekat, sekadar menyapa.
“Kamu kelihatan baik-baik saja,” kata Bintang pelan.
Bulan tersenyum. “Aku belajar menerima.”
Tidak ada nada pahit. Tidak ada sindiran. Hanya ketenangan yang justru membuat Bintang merasa kecil.
“Aku minta maaf,” katanya, kali ini tanpa alasan panjang.
Bulan mengangguk. “Aku sudah memaafkan. Tapi memaafkan bukan berarti kembali.”
Kalimat itu sederhana, namun final.
Sumber:




