Mengenal AKP Fauzi, Anggota Jatanras Polda Jatim yang Disegani Bandit Jalanan

Mengenal AKP Fauzi, Anggota Jatanras Polda Jatim yang Disegani Bandit Jalanan

Perwira Subdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim AKP Fauzi bersama anak bungsunya--

SURABAYA, MEMORANDUM.CO.ID - Warga Jawa Timur tentu tak asing dengan hasil pengungkapan kasus yang dilakukan Subdit III Jatanras Polda Jatim. Bahkan, tak terhitung berapa pelaku kejahatan jalanan ditangkap, dilumpuhkan hingga ditembak mati anggota di bawah kepemimpinan Kasubdit AKBP Arbaridi Jumhur tersebut.

Namun di balik hasil itu banyak perjuangan anggota, yang tak diketahui masyarakat. Salah satunya pengalaman menegangkan yang dirasakan AKP Fauzi. Tepat 8 tahun lalu, telapak kaki perwira kelahiran Kota Mojokerto itu pernah ditembus peluru.

BACA JUGA:Sosok Inspiratif R. Widjanarko dari Punggung Model ke Pengusaha Sukses


Mini Kidi--

Momen menegangkan itu dirasakan Fauzi saat dirinya bersama tim yang dipimpinnya melakukan pengejaran pelaku curanmor di Pasuruan. Dalam upaya penangkapan, AKP Fauzi sempat berjibaku dengan pelaku.

"Saya ingat betul bawa senjata Scorpion yang sudah lama dan rawan aus. Nah habis nembak peringatan pelaku masih melawan dan berusaha merebut senjata akhirnya terkena hentakan dan meletus ke telapak kaki saya sebelah kiri," kata Fauzi.

Tak hanya tertembak, AKP Fauzi juga kerap dilempar bom jenis bondet hingga terlibat kecelakaan saat meringkus pelaku. "Kalau dilempar bondet sudah sering mas hingga kecelakaan kejar-kejaran sama pelaku. Pernah juga dibacok," tegas Fauzi.

BACA JUGA:Nabilah Rosianawati Sosok Energik yang Membangun Personal Branding di Dunia Kerja dan Sosial media

Anak bungsu dari lima bersaudara itu pun membuka alasannya menolak jabatan dan tetap konsisten bertugas memberantas kejahatan jalanan. Dulu saat kecil, Fauzi dikagetkan kabar jika ibunya menjadi korban jambret di Surabaya.

Saat naik becak menuju ke terminal, kata Fauzi, sang ibu dipepet orang tak dikenal. Segala barang berharga dirampas. Tetapi, tak puas di sana, pelaku tega membacok dan memukuli ibu Fauzi. "Waktu itu saya masih kelas 6 SD. Ibu saya belanja sekalian beli perhiasan di Surabaya," imbuh Fauzi.

Sejak saat itulah, Fauzi mengecam pelaku kejahatan, khususnya jalanan. Ia bahkan ingin mendedikasikan menjadi polisi untuk memberantas para pelaku kejahatan. Jika mengingat cerita itu darah Fauzi mendidih.

BACA JUGA:Sosok Yuris Sabriena, Berusaha untuk Berbagi Ilmu Pengalaman dan Menghargai Orang Lain

"Pengalaman itu yang membuat saya tak memberikan kompromi untuk kejahatan jalanan. Jika saya ingat orang tua, darah saya langsung mendidih," kata Fauzi.

Motivasi lain menjadikan Fauzi banyak menghabiskan waktu di jalanan adalah beribadah. Karena menurutnya, dengan memberantas kejahatan jalanan, itu sama saja dengan ibadah. "Karena menegakkan kebenaran adalah bentuk ibadah," kata dia.

Sumber: