Samijali, Kisah UMKM Legendaris Dolly yang Mencari Sentuhan Pemkot Surabaya

UMKM Samijali, produsen keripik samiler legendaris dari bekas lokalisasi Dolly. --
SURABAYA, MEMORANDUM.CO.ID - UMKM Samijali, produsen keripik samiler legendaris dari bekas lokalisasi Dolly, kini tengah menghadapi tantangan. Setelah sempat menorehkan prestasi dengan memasarkan produknya hingga ke Belanda, Jerman, dan Singapura, Samijali kini lesu karena minimnya pesanan.
Mini--
Roro Dwi Prihatin, pemilik Samijali, mengungkapkan kesulitannya mempertahankan usaha yang dirintis sejak setahun pasca penutupan Dolly pada 2014. Meskipun produknya telah dipajang di Mal Siola dan kawasan Merr, pesanan tetap sepi, bahkan menjelang Ramadan.
"Sekarang belum ada yang kontak (order), aku sekarang ngontrak, setiap bulan bayar listrik padahal belum ada orderan," keluh Dwi, Kamis 20 Februari 2025
BACA JUGA:Inspektorat Surabaya Dalami Kasus Dugaan Penipuan UMKM yang Menimpa Belasan Pelaku Usaha
Keunikan keripik Samijali terletak pada beragam varian rasa dan teksturnya yang renyah. "Kalau punyaku ada rasa-rasa terus rasanya lebih kress, enaknya tipis. Kalau originalnya ya ada rasa gurih dan manis dari ketelanya itu," jelasnya.
Dwi mengenang masa keemasan Samijali di bawah kepemimpinan Tri Rismaharini. Saat itu, UMKM di Dolly mendapat perhatian penuh, dan Samijali mampu meraup omzet hingga Rp 27 juta per bulan pada tahun 2015-2017. Namun, dukungan tersebut terasa berkurang di masa kepemimpinan saat ini.
"Dulu pertama buming itu satu bulan Rp 27 juta tahun 2015, 2016, 2017 itu dibantu GMH ITS. Kalau dulu Bu Risma tamu itu dikasih batik, sandal dan Samijali sekarang Pak Eri nggak begitu," ujarnya.
Dwi berharap Pemkot Surabaya memberikan pendampingan yang lebih intensif, seperti yang pernah dilakukan sebelumnya. Ia juga menyayangkan minimnya tindak lanjut dari berbagai survei yang dilakukan oleh pemerintah terkait sepinya pesanan.
"Kalau sampean jual sekian di Siola itu dinaikkan nilai harganya, sampean dapat semuanya. Cuma dulu kita diajak kemana-mana sekarang mungkin gantian ya," tuturnya.
Perjalanan Samijali tidaklah mudah. Sebelum memproduksi keripik samiler, Dwi berjualan kopi dan makanan di sekitar wisma-wisma di Dolly. Setelah mendapat pelatihan dari Gerakan Menulis Harapan (GMH), ia akhirnya menemukan jati dirinya dalam memproduksi keripik samiler dengan berbagai inovasi rasa dan kemasan.
Proses produksi awalnya dilakukan di Balai RT, lalu pindah ke bekas wisma, dan kini dibantu oleh saudara dan tetangga. Produk Samijali telah dipasarkan di berbagai tempat, termasuk Dolly Saiki Point, Merr, Siola, dan Hotel Mercure, serta pernah dipamerkan di Pameran Mlaku-Mlaku Tunjungan. Produknya bahkan sempat dipasarkan hingga ke Jogjakarta, Medan, Belanda, Jerman, dan Singapura.
Sumber: