Surabaya, memorandum.co.id - Kalangan dewan mendesak Pemkot Surabaya memberikan edukasi dan sosialisasi ke masyarakat tentang stunting. Ini agar kasus stunting di Surabaya yang mencapai 15 ribu balita bisa ditekan. Kendati angka tersebut mengalami penurunan dibanding 2018 yang mencapai 16 ribu balita. Ketua Komisi D DPRD Surabaya Khusnul Khotimah menegaskan, jumlah balita stunting di Surabaya masih besar. Karena itu, perlu dilakukan pendalaman dan pengkajian untuk mencari titik permasalahan kasus tersebut. "Data itu (15 ribu balita stunting, red) terus kita evaluasi. Kenapa angka stunting menjadi sangat tinggi? Karena itu, pada 2020 nanti ada program untuk mengatasi permasalahan tersebut. Semua dalam proses penurunan angka stunting di Kota Pahlawan ini," kata politisi perempuan PDI-P ini, Kamis (19/12). Khusnul menjelaskan, kasus stunting ditengarai salah satu faktor utamanya adalah kekurangan asupan gizi. Selain itu, juga masih kurangnya pemahaman masyarakat akan nilai gizi kepada balita. "Untuk menekan stunting, puskesmas terdekat untuk rajin turun atau jemput bola ke warganya, terutama ke permukiman padat penduduk. Ini supaya program tersebut bisa berjalan efektif dan mengetahui data sebenarnya di masyarakat," jelas Khusnul. Soal Pemkot Surabaya yang akan membentuk satgas stunting dalam waktu dekat, menurut Khusnul kunci utama keberhasilan dalam penanganan stunting adalah komitmen bersama. Selain itu, pemkot juga bisa melakukan penguatan kader yang sudah terbentuk, seperti kader lansia, pos pembinaan terpadu (posbindu), pos pelayanan keluarga berencana-kesehatan terpadu (posyandu) yang tersebar di kampung-kampung dengan penambahan program stunting. "Tetapi kalau memang menjadi salah satu catatan yang harus diperkuat bahwa ini memang harus disegerakan dibentuk satgas stunting. Ini menjadi bagian untuk memperkuat tugas-tugas kader yang sudah terbentuk di kampung-kampung. Sebab, satgas kita ini sudah banyak jumlahnya sekitar 40 ribu lebih kader yang dibentuk pemkot," papar dia. Selain itu, untuk mendukung program pemkot juga diperlukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat melalui kader-kader yang ada sekarang, mulai dari tingkat kota, kecamatan, kelurahan, RT/RW. "Ini tentu menjadi sangat penting," imbuh Khusnul. Dia menambahkan,pemkot melalui dinkes sudah melakukan pendampingan kepada calon pengantin dengan melibatkan puskesmas. Setelah dirasakan cukup, calon pengantin mendapatkan sertifikat layak nikah. "Calon pengantin ini juga mendapat materi yang dibutuhkan ketika setelah menikah dan menjadi seorang ibu. Termasuk ibu yang hamil harus rutin memeriksakan kehamilannya kepada dokter kandungan. Ini untuk memastikan tumbuh kembang janin," pungkas Khusnul. (alf/dhi)
Dewan Desak Pemkot Serius Atasi Stunting
Jumat 20-12-2019,08:14 WIB
Reporter : Syaifuddin
Editor : Syaifuddin
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Kamis 05-11-2026,08:09 WIB
Rumput Tetangga Lebih Hijau (4): Pelarian yang Salah Alamat
Kamis 05-11-2026,10:17 WIB
Progres Pelebaran Jalan Wiyung–Menganti Capai 21 Persen, Target Rampung Mei 2027
Kamis 05-11-2026,11:32 WIB
Operasi Patuh Semeru 2026, Ditlantas Polda Jatim dan Polres Blitar Inspeksi Angkutan Umum
Kamis 05-11-2026,10:43 WIB
Polresta Sidoarjo Ungkap 147 Kasus Narkoba Selama Agustus-Oktober 2026, 180 Tersangka Berhasil Diamankan
Kamis 05-11-2026,16:52 WIB
Polemik TK Nurul Jannah Surabaya, Yayasan Pastikan PBG Terbit dan Parkir Disiapkan
Terkini
Jumat 06-11-2026,08:03 WIB
Polisi Bersama Masyarakat, Kapolsek Tarik Bantu Renovasi Rumah Warga Dusun Bokongduwur
Jumat 06-11-2026,07:42 WIB
Gandeng Pemkab Sidoarjo dan KPK, PN Sidoarjo Gelar Bimtek Antigratifikasi dan Antisuap
Jumat 06-11-2026,07:32 WIB
Serap Aspirasi Buruh, Kapolresta Sidoarjo Gelar Silaturahmi dengan Pimpinan Serikat Pekerja
Jumat 06-11-2026,07:27 WIB
Lansia Penjaga Toko Sembako di Jember Jadi Korban Perampokan: Uang dan HP Raib, Polisi Buru Pelaku
Jumat 06-11-2026,07:15 WIB