Melansia dengan Anggun dan Damai ala Dr Rofiqah Rosidi di Malang

Minggu 04-10-2026,19:11 WIB
Reporter : Ariful Huda
Editor : Novi Triawan

Bagian kedua adalah damai interpersonal, yaitu kedamaian dengan orang lain.

Banyak lansia stres karena terkena post-power syndrome, marah karena kehilangan jabatan, menjadi kaku, mudah menghakimi anak muda, atau menuntut dihormati.

Damai interpersonal membalikkan hal tersebut dengan belajar ikhlas bahwa anak-anak memiliki jalannya sendiri.

Kelenturan emosi dalam merawat relasi ini juga memancar dalam hubungan sosial sehari-hari dengan para mantan mahasiswa pascasarjana bimbingan suaminya.

Walau masa perkuliahan telah lama usai, ikatan silaturahmi itu dirawat erat melalui pintu rumah mereka di Tlogowaru yang senantiasa terbuka hangat untuk saling mengunjungi.

Contoh nyata kedamaian interpersonal juga terlihat saat Rofiqah dan suaminya merawat sang ibunda, almarhumah Umi Sudarti, yang kakinya sakit karena varises parah hingga harus menggunakan kursi roda.

Karena sang ibu selalu ketakutan setiap kali hendak dinaikkan ke mobil, Sakban dengan kreatif membongkar sendiri kursi mobil mereka memakai kunci pas.

Kursi baris kedua diubah posisinya agar bisa diputar menghadap keluar pintu.

Cara tersebut membuat sang ibu bisa naik mobil dengan mudah dan bermartabat untuk menikmati udara segar di hari tuanya.

Pengalaman merawat sisa usia Umi Sudarti dan ibu mertuanya, Suwarni, menjadi pelajaran tertinggi bagi Rofiqah untuk menurunkan ego.

Hal ini pula yang membuatnya sekarang aktif turun ke lapangan untuk meneliti dan membantu masa depan komunitas disabilitas usia kerja di berbagai kota.

Tiga Pilar Melansia dengan Anggun

Bagi Rofiqah, menua dengan anggun atau aging gracefully bukan soal memakai kosmetik mahal untuk menutupi keriput di wajah.

Anggun yang sejati adalah kemampuan menjaga emosi tetap stabil di tengah penurunan fisik.

Hal tersebut ditopang oleh tiga pilar utama.

Pilar pertama adalah kerendahan hati atau humility.

Kategori :