Sifat ini membebaskan seseorang dari rasa cemas.
Sebagai ibu dari Gilang yang berkebutuhan khusus, Rofiqah sadar ia tidak bisa selamanya mendampingi sang putra.
Kerendahan hati membuatnya ikhlas menurunkan ego untuk mau meminta bantuan orang lain dan mulai membangun sistem pendukung atau support system yang aman bagi masa depan Gilang.
Pilar kedua adalah keteraturan atau orderliness.
Banyak orang mengira usia tua adalah waktunya bebas tanpa aturan.
Padahal, jika rutinitas hilang mendadak, lansia justru mudah cemas, merasa kesepian, bahkan mempercepat kepikunan atau demensia.
Jadwal harian yang teratur, mulai mengajar, beribadah, olahraga, hingga merawat rumah, membuat otak lansia tetap sehat.
Bagi Gilang, keteraturan jadwal juga membuatnya merasa aman dan tenang.
Pilar ketiga adalah kelenturan emosional atau emotional flexibility.
Usia tua pasti akrab dengan perpisahan, baik pensiun kerja maupun ditinggal wafat orang tercinta.
Kelenturan emosional membuat lansia bisa meliuk di tengah badai kesedihan tanpa harus patah arang.
Mereka tidak meratapi nasib, melainkan cepat bangkit mencari hal terbaik yang masih bisa dilakukan.
Muara Perjalanan Hidup
Matahari di tepi Karangkates mulai tenggelam menandai berakhirnya obrolan.
Rofiqah mengenang kembali perjalanan hidupnya yang panjang, merangkak dari bawah sebagai guru honorer taman kanak-kanak, guru sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, hingga akhirnya menjadi dosen pascasarjana dengan gelar doktor.
Bagi seorang perempuan lansia, kedamaian jiwa adalah penentu utama kebahagiaan hidup.