SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Rumah Sakit Mata Undaan Surabaya menggelar edukasi dan diskusi interaktif tentang bahaya glaukoma kepada masyarakat dalam rangka World Glaucoma Week 2026, Rabu 11 Maret 2026.
Kegiatan yang diikuti pasien dan masyarakat ini bertujuan meningkatkan kesadaran terhadap penyakit glaukoma yang menjadi salah satu penyebab utama kebutaan di dunia.
Mini Kidi Wipes.--
Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, lebih dari 70 juta orang di dunia menderita glaukoma dan jumlah tersebut diperkirakan meningkat hingga lebih dari 110 juta penderita pada tahun 2040.
Di Indonesia, glaukoma juga menjadi penyebab signifikan kebutaan terutama pada kelompok lanjut usia.
BACA JUGA:Mudik Tak Perlu Khawatir, BPJS Kesehatan Pastikan Peserta JKN Bisa Berobat di Mana Saja
Namun tingkat kesadaran masyarakat terhadap penyakit ini masih rendah sehingga banyak penderita tidak menyadari penglihatannya menurun secara permanen.
Dokter spesialis mata RSMU Surabaya dr Dewi Rosarina SpM(K) menjelaskan glaukoma merupakan penyakit yang terjadi akibat kerusakan saraf mata.
Kondisi tersebut menyebabkan penglihatan menjadi kabur dan lapang pandang semakin menyempit.
BACA JUGA:Seminar Kesehatan Ramadan Golkar Surabaya Diserbu Peserta, Edukasi Pola Hidup Sehat saat Puasa
“Gejala awal biasanya ditandai penglihatan yang perlahan mengabur dan berkabut, disertai penyempitan lapang pandang,” ujar dr Dewi Rosarina di Auditorium dr Badri lantai 3 RSMU Surabaya.
Menurutnya, tanda-tanda glaukoma juga dapat dikenali dari aktivitas sehari-hari.
Gempur Rokok Ilegal.--
Penderita sering kali tersandung atau menabrak benda di sekitarnya karena tidak menyadari adanya objek di area pandang tertentu.
“Pasien sering tidak melihat apa yang ada di bawahnya, seperti lubang atau anak tangga saat sedang turun,” jelasnya.
Ia juga menyoroti risiko kecelakaan lalu lintas pada penderita glaukoma akibat penyempitan lapang pandang.
BACA JUGA:Pakar Psikologi Unesa: Puasa Ramadan Perkuat Kesehatan Mental
Dalam beberapa kasus, pasien tidak mampu melihat kendaraan di sisi samping saat berkendara.
Dr Dewi mencontohkan salah satu pasien yang beberapa kali mengalami kecelakaan saat hendak berbelok ke kiri karena mata kirinya terdampak glaukoma sehingga tidak dapat mendeteksi kendaraan di sisi tersebut.
Selain menyerang lansia, ia menegaskan bahwa glaukoma juga dapat terjadi pada bayi maupun anak-anak.
Secara medis, glaukoma terbagi menjadi dua jenis berdasarkan penyebabnya yakni faktor primer yang muncul tanpa pemicu jelas dan faktor sekunder yang dipengaruhi kondisi kesehatan lain.
Faktor sekunder dapat dipicu oleh trauma pada mata, efek pascaoperasi, penggunaan obat tertentu hingga komplikasi penyakit kronis seperti diabetes.
“Pasien diabetes memiliki risiko lebih tinggi. Jika perdarahan tidak dikendalikan dengan baik, maka bisa berujung pada komplikasi glaukoma,” paparnya.
BACA JUGA:Perkuat Layanan Kesehatan Pesisir, TTL Salurkan Bantuan Alkes ke Tiga Pustu
Meski kerusakan akibat glaukoma tidak dapat dipulihkan sepenuhnya, penyakit ini masih dapat dikendalikan melalui pengobatan rutin maupun tindakan medis.
Penanganan yang dapat dilakukan antara lain penggunaan obat tetes mata, operasi laser, trabekulektomi hingga pemasangan implan drainase atau tube shunt.
“Jenis operasi disesuaikan dengan kondisi pasien, apakah dilakukan trabekulektomi, operasi laser seperti SLT atau ALT, maupun pemasangan implan drainase,” jelasnya.
BACA JUGA:Psikologi Unair Sapa Warga di Balai Kota Surabaya, Ajak Peduli Kesehatan Mental
Dr Dewi menegaskan pentingnya kontrol rutin setelah pengobatan atau operasi guna memantau perkembangan penyakit agar tidak semakin memburuk.
“Kami akan memantau pasien secara berkala untuk memastikan penyakit ini dapat dikendalikan dan tidak mengalami progres yang lebih parah,” pungkasnya. (rio)