new idulfitri

Pemugaran Sayap Barat Grahadi Tampilkan Sejarah 1810, Gunakan Material Khusus dari Jerman

Pemugaran Sayap Barat Grahadi Tampilkan Sejarah 1810, Gunakan Material Khusus dari Jerman

Gubernur Khofifah meninjau sayap barat Gedung Negara Grahadi yang akan dilakukan pemugaran.--

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Proses pemugaran bangunan Sayap Barat Gedung Negara Grahadi terus berjalan dengan pendekatan konservasi yang mengedepankan keaslian struktur dan nilai sejarah. Proyek ini bahkan disebut sebagai salah satu yang jarang dilakukan di Indonesia, karena berupaya menampilkan kembali elevasi asli bangunan sejak pertama kali didirikan pada tahun 1810.

Pendamping perencanaan pemugaran, arsitek Fafan Tri Afandy, menjelaskan bahwa salah satu langkah penting adalah melakukan ekskavasi lantai untuk memperlihatkan level asli bangunan. Dari hasil tersebut, diketahui telah terjadi peningkatan ketinggian lantai sekitar 50 sentimeter sejak awal berdiri.

BACA JUGA:Pemprov Jatim Gelar Lomba Memasak Bandeng di Gedung Negara Grahadi


Mini Kidi Wipes.--

"Level asli ini nantinya akan diekspos menggunakan lantai kaca, sehingga masyarakat bisa melihat langsung lapisan sejarah bangunan sekaligus memahami teknologi konstruksi masa itu," ujar Fafan, Rabu, 1 April 2026.

Selain itu, pemugaran juga menggunakan material khusus untuk menjaga keaslian struktur. Salah satunya adalah plaster berpori yang memungkinkan dinding "bernapas", berbeda dengan semen modern yang cenderung rapat dan berpotensi merusak dinding lama.

BACA JUGA:Ngabuburit di Grahadi, Bahas Kesiapsiagaan BBM dan LPG di Tengah Ancaman Krisis Global

Material plaster tersebut menyerupai teknologi tradisional bernama bligon, yakni campuran kapur dan tumbukan batu bata merah. Namun, karena keterbatasan bahan di dalam negeri, material dengan spesifikasi serupa didatangkan dari Jerman.

"Kami tidak menggunakan semen modern karena bisa menyebabkan retakan dan penggembungan pada dinding. Material ini memungkinkan proses kapilaritas air tetap berjalan tanpa merusak struktur asli," jelas Fafan.

Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya Jawa Timur, I Nyoman Gunadi, menyebut pemugaran dilakukan bertahap, dimulai dari perbaikan atap.

BACA JUGA:Khofifah Buka Open House Lebaran di Grahadi dan Rumah Pribadi, Warga Dipersilakan Datang

Untuk menjaga kekuatan struktur, rangka atap kini menggunakan baja yang lebih ringan dibanding kayu, namun tetap mempertahankan tampilan asli bangunan. Selain itu, penguatan juga dilakukan pada bagian ring balok untuk mengikat dinding.

"Secara visual tetap sama, tetapi secara struktur lebih kuat dan aman. Untuk lantai, akan digunakan marmer yang menyesuaikan dengan kondisi eksisting," ujar Nyoman. 

Ia menambahkan, seluruh kebutuhan material telah dipersiapkan sejak tahap perencanaan guna memastikan proses berjalan lancar. Pemugaran ditargetkan rampung pada 25 Oktober mendatang.

Sumber:

Berita Terkait