Ketika ibu Bintang datang menginap, situasi makin terasa jelas. Ia mengkritik cara Bulan menyimpan bumbu dapur, cara ia mengatur jadwal anak, bahkan cara ia berbicara pada suaminya.
“Zaman Ibu dulu nggak begini,” katanya sambil menghela napas panjang.
Bulan menahan diri. Ia tidak ingin menjadi menantu yang dianggap melawan. Namun di dalam hatinya, ia mulai merasa seperti tamu di rumahnya sendiri.
Suatu malam, setelah ibunya tidur, Bintang berkata pelan, “Kamu jangan terlalu sensitif. Ibu cuma ingin yang terbaik.”
Bulan tidak langsung menjawab. Ia duduk di ujung ranjang dan berkata dengan suara yang sangat tenang, “Kalau semua keputusan selalu lewat Ibu, lalu aku ini apa? Pendampingmu, atau sekadar pelengkap?”
Bintang terdiam.
Ia tidak pernah merasa sedang membandingkan. Dalam pikirannya, membahagiakan ibu adalah kewajiban. Tapi ia mulai melihat sesuatu yang tak pernah ia sadari: setiap kali ia memihak ibunya tanpa berdiskusi dengan Bulan, ia sedang melemahkan fondasi rumah tangganya sendiri.
“Ibu akan selalu jadi Ibumu,” lanjut Bulan pelan. “Tapi aku adalah istrimu. Kalau kamu tidak bisa membedakan peran itu, kita akan terus berputar di masalah yang sama.”
Gempur Rokok Illegal--
Keesokan paginya, saat ibunya kembali memberi saran tentang keuangan, Bintang untuk pertama kalinya berkata, “Bu, kami akan atur sendiri. Doakan saja.”
Kalimat itu sederhana, tapi berat.
Ibu Bintang terdiam. Bulan juga.
Karena dalam pernikahan, batas bukan tentang melawan orang tua. Ia tentang membangun rumah sendiri tanpa harus memutus cinta pada yang lama.
Dan bagi Bintang, belajar menjadi suami berarti berani berdiri di tengah tanpa membuat istrinya selalu merasa nomor dua.