selamat menunaikan ibadah ramadan 2026

Di Antara Dua Kota: Ketika Sepi Menjadi Kebiasaan (2)

Di Antara Dua Kota: Ketika Sepi Menjadi Kebiasaan (2)

--

AWALNYA Bulan hanya merasa sepi. Itu wajar, pikirnya. Tidak semua istri kuat menjalani LDR tanpa rindu yang menekan. Ia menahan diri untuk tidak terlalu sering menelepon. Ia tidak ingin dianggap posesif. Ia ingin menjadi istri yang mengerti situasi.

Namun lama-kelamaan, sepi itu berubah bentuk.


Mini Kidi Wipes.--

Bintang semakin jarang mengirim pesan lebih dulu. Video call yang dulu rutin kini sering ditunda dengan alasan rapat, lembur, atau sekadar lelah. “Besok ya, aku capek banget,” katanya suatu malam sebelum memutus sambungan.

Besok sering kali tak pernah benar-benar datang.

Di kota barunya, Bintang mulai memiliki ritme hidup yang berbeda. Ia makan malam bersama tim, tertawa lebih lepas, dan pelan-pelan membangun kehidupan yang tidak lagi berpusat pada rumahnya. Di antara rekan kerjanya, ada satu nama yang makin sering disebut—Nara.

“Nara bantu aku banyak di kantor,” katanya suatu kali saat Bulan bertanya tentang pekerjaannya. “Dia ngerti tekanan di sini.”

Kalimat itu terdengar biasa, tapi Bulan menangkap sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Bukan karena cemburu pada Nara sebagai perempuan, melainkan karena Bintang terdengar lebih hidup saat menyebut namanya.

“Dia tahu kamu sudah menikah?” tanya Bulan langsung.

“Tahu,” jawab Bintang cepat. “Kenapa sih kamu jadi sensitif begini?”

Bulan tidak menjawab. Ia hanya menyadari satu hal: ia mulai merasa seperti orang luar dalam kehidupan suaminya sendiri.

Hari-hari berjalan tanpa pertengkaran besar. Namun jarak emosional makin terasa. Bulan mulai terbiasa makan malam sendirian. Ia mulai berhenti menunggu notifikasi. Ia bahkan mulai menata hidupnya tanpa menghitung hari kepulangan suaminya.

Suatu malam, saat Bintang sedang bercanda di sebuah restoran bersama tim, ponselnya bergetar. Video call dari Bulan.

Ia menatap layar beberapa detik, lalu mematikan panggilan.

Sumber: