Selalu Ibu yang Didahulukan: Ibu yang Terlalu Ikut Campur (2)

Senin 02-03-2026,09:00 WIB
Reporter : Anis Tiana Pottag
Editor : Ferry Ardi Setiawan

AWALNYA hanya saran.

“Istri itu harus bangun lebih pagi.”

“Anak jangan terlalu dimanja.”

“Uang jangan dipegang perempuan semua.”

Kalimat-kalimat itu datang dari ibu Bintang lewat telepon, kadang lewat pesan suara panjang yang selalu diputar Bintang dengan serius. Bulan mencoba mengerti. Ia tahu, seorang ibu merasa tetap berhak memberi nasihat pada anaknya. Tapi yang membuatnya lelah adalah satu hal: setiap nasihat itu selalu berubah menjadi keputusan.


Mini Kidi Wipes.--

Suatu sore, Bintang pulang dan berkata, “Mulai bulan depan kita pindah dekat rumah Ibu saja.”

Bulan terdiam. “Kita sudah sepakat mau fokus lunasi cicilan rumah ini dulu.”

“Ibu bilang lebih baik kita hemat daripada gengsi,” jawab Bintang cepat.

“Ini bukan soal gengsi,” kata Bulan pelan. “Ini soal hidup kita.”

Sejak saat itu, hampir setiap keputusan rumah tangga terasa seperti rapat tiga orang, bukan dua. Soal sekolah anak, soal pengeluaran, bahkan soal menu makan malam.

“Ibu bilang kamu terlalu sering pesan makanan luar,” kata Bintang suatu malam.

“Kamu cerita semua?” tanya Bulan pelan.

Bintang terlihat defensif. “Dia cuma khawatir.”

Bulan menatap suaminya lama. “Khawatir itu beda dengan mengatur.”

Kategori :