Selalu Ibu yang Didahulukan: Ketika Nafkah Bukan Untukku (1)
-Ilustrasi-
SETIAP tanggal satu, notifikasi transfer selalu muncul lebih dulu di ponsel Bintang. Bukan ke rekening Bulan. Bukan untuk cicilan rumah mereka. Tapi ke rekening ibunya.
Bulan tidak pernah melarang suaminya berbakti. Ia tahu, seorang anak laki-laki punya tanggung jawab moral pada orang tuanya. Ia juga menghormati ibu mertuanya. Namun yang membuatnya lelah bukan soal memberi melainkan soal urutan.

Mini Kidi Wipes.--
Suatu malam, ketika listrik hampir diputus karena tagihan tertunda, Bulan berkata pelan, “Kita bisa bayar minggu depan?”
Bintang menjawab singkat, “Uangku sudah aku kirim ke Ibu. Dia lagi butuh.”
“Dan kita?” tanya Bulan tanpa nada tinggi.
“Kita masih bisa atur.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi terasa berat.
Bulan mulai menghitung ulang belanja bulanan. Menunda membeli kebutuhan anak. Menyimpan keinginannya sendiri. Sementara di rumah lama, renovasi dapur ibunya berjalan lancar.
“Mas, boleh nggak kita duduk dan hitung bareng?” tanya Bulan suatu malam.
“Hitung apa lagi?” jawab Bintang cepat.
“Hitung prioritas.”
Bintang tersinggung. “Kamu mau aku nggak peduli sama Ibu?”
“Bukan,” jawab Bulan tenang. “Aku cuma mau kamu juga peduli sama rumah yang kamu bangun sendiri.”
Sumber:




