Anak Haram Suamiku: Pengakuan Resmi yang Menyakitkan (2)
-Ilustrasi-
RUANG itu terasa terlalu terang.
Bintang duduk di kursi plastik dengan wajah tegang. Di hadapannya, beberapa lembar dokumen menunggu tanda tangan. Di sampingnya, perempuan dari masa lalunya berdiri tanpa ekspresi berlebihan.
Anak itu duduk diam, memainkan ujung lengan bajunya, tidak sepenuhnya mengerti apa yang sedang diputuskan oleh orang-orang dewasa di sekelilingnya.

Mini Kidi Wipes.--
Bulan berdiri sedikit menjauh.
Ia memilih hadir. Bukan karena siap. Tapi karena ia tidak ingin lagi kebenaran datang dari luar dirinya.
“Apakah Saudara mengakui anak ini sebagai anak kandung?” tanya petugas dengan suara formal.
Bintang menelan ludah. “Iya.”
Satu kata. Pendek. Final.
Tanda tangan itu terlihat sederhana. Hanya goresan tinta. Namun bagi Bulan, itu seperti garis yang membelah hidupnya menjadi dua: sebelum tahu, dan setelah semuanya resmi.
Nama Bintang kini tertulis di akta kelahiran anak itu. Status berubah. Hak dibicarakan. Tanggung jawab dihitung. Semua terdengar rapi secara hukum.
Namun tidak ada prosedur yang bisa mengatur rasa.
Di perjalanan pulang, mobil mereka sunyi.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Bintang hati-hati.
Sumber:




