Sinyal Lesunya Apartemen Surabaya, Warga Pilih Rumah Tapak

Jumat 27-02-2026,07:44 WIB
Reporter : Lailatul Nur Aini
Editor : Muhammad Ridho

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID -  Di tengah citra Surabaya sebagai kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia, geliat apartemen justru belum menunjukkan daya tarik kuat bagi pasar.

Data DPD Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun Indonesia (P3RSI) Jawa Timur mencatat tingkat kepenghunian apartemen di Surabaya baru menyentuh 58 persen. Artinya, 42 persen unit masih kosong dan belum dihuni.

BACA JUGA:Bhabinkamtibmas Polsek Lakarsantri Sosialisasi Call Center 110 di Apartemen Denver


Mini Kidi Wipes.--

Ketua DPD P3RSI Jatim, Ariyanto Hermawan, menyebut pertumbuhan minat beli apartemen hanya bergerak tipis, sekitar 1–2 persen per tahun.

"Kondisinya cenderung stagnan. Pertumbuhan ada, tapi sangat tipis," kata Ariyanto, Jumat, 27 Februari 2026.

Kondisi tersebut membuat pengembang memilih menahan diri. Alih-alih membuka proyek baru, mereka fokus menghabiskan stok unit yang belum terjual. 

BACA JUGA:Apartemen Taman Melati MERR Surabaya Disewa 2 Bulan Jadi Gudang 60 Kg Sabu

Tahun ini, hanya dua proyek yang masih berjalan, yakni Alpine Tower (Trans Icon) di Surabaya Selatan dengan 650 unit dan Tamansari Emerald di Surabaya Barat sebanyak 568 unit, yang mulai dibangun sejak 2025.

Di luar dua proyek tersebut, belum ada sinyal izin pembangunan apartemen baru untuk 2026. Bahkan, potensi nihil proyek baru diperkirakan bisa berlanjut hingga 2027.

Di tengah pasar yang lesu, harga apartemen justru tetap merangkak naik 2–4 persen. Jika sebelumnya berada di kisaran Rp21,5 juta per meter persegi, kini menyentuh sekitar Rp23 juta per meter persegi.

BACA JUGA:Inovasi Nelayan Romokalisari Sukses Budidaya Kepiting Soka Pakai Sistem Apartemen dan Tenaga Surya

Namun kenaikan harga ini tak diikuti lonjakan permintaan. Salah satu faktor yang disorot adalah lokasi proyek yang banyak berada di pinggiran kota, kurang menarik bagi pembeli yang mengincar hunian di pusat Surabaya.

Selain itu, kenaikan harga tanah di kawasan strategis turut mendorong harga jual unit. Apartemen yang umumnya berdiri di lahan premium membuat banderolnya sulit bersaing dengan rumah tapak di daerah satelit.

Fenomena menarik lainnya adalah pergeseran preferensi konsumen. Dengan harga yang relatif setara apartemen, masyarakat kini melirik rumah tapak di wilayah penyangga seperti Gresik dan Sidoarjo.

Kategori :