dirinya yang salah.
Salah karena merasa.
Salah karena berharap.
Salah karena ingin didengar.
Di hadapan orang lain, Bintang adalah sosok yang dikagumi.
Pemimpin.
Pribadi kuat.
Orang yang selalu punya jawaban.
Namun di rumah, ia lupa satu hal sederhana:
hubungan bukan soal siapa yang paling benar,
melainkan siapa yang mau saling memahami.
Hari-hari berjalan tanpa konflik besar.
Tak ada teriakan.
Tak ada pintu dibanting.
Hanya jarak yang tumbuh pelan-pelan, tanpa suara.
Dan Bintang mengira semuanya baik-baik saja,