BINTANG duduk sendirian di kursi kerja rumahnya. Kopi dingin di meja tak tersentuh. Sejak pesan dari Winda dibaca Bulan, rumah mereka berubah sunyi bukan karena tak ada suara, tapi karena tak ada kehangatan.
Bulan bersikap tenang, bahkan terlalu tenang. Ia tetap menyiapkan makanan untuk anak-anak, menyapa Bintang seperti biasa, tapi tak lagi menatapnya dengan cinta. Di matanya kini hanya ada jarak, seperti jurang yang tak bisa dijembatani.
Mini Kidi--
“Mas mau makan dulu atau mandi?” tanya Bulan suatu sore.
Bintang ingin sekali memeluk istrinya. Ingin berlutut dan meminta maaf lebih dalam, lebih nyata. Tapi luka itu terlalu baru, dan ia tahu luka itu bukan hanya karena Winda tapi karena ia lupa siapa yang selalu ada di sisinya saat ia belum punya apa-apa.
Winda masih mengirim pesan. Kali ini tak ada emoji manja, hanya kalimat:
“Aku minta maaf. Aku nggak bermaksud merusak pernikahan kalian. Tapi aku juga manusia, Mas.”
Dan Winda memang tidak salah sepenuhnya. Tapi ia juga tidak benar. Dan yang paling bersalah tetaplah Bintang, yang mengizinkan ruang hatinya terbuka untuk selain istrinya.
Di sisi lain, Bulan berusaha sekuat tenaga untuk tetap waras. Ia tidak ingin anak-anak tahu bahwa ayah mereka telah mengkhianati janji pernikahan. Tapi ia juga tidak bisa berpura-pura bahagia.
Malam itu, mereka duduk di ruang tamu. Bulan memecah keheningan.
“Mas, aku nggak akan gugat cerai. Tapi aku juga nggak bisa hidup seperti ini terus.”
“Bulan, aku salah. Aku mau berubah. Aku berhenti semua komunikasi sama Winda sejak kejadian itu.”
“Aku tahu. Aku cek HP-mu. Tapi ini bukan soal Winda, Mas. Ini soal bagaimana kamu bisa dengan mudah membagi cinta yang seharusnya hanya untukku dan anak-anak.”
Bintang menunduk. “Aku… lelah, Lun. Aku terjebak dalam ritme kerja, rumah, tekanan dari kantor. Dan aku nggak tahu harus ke mana saat merasa nggak dianggap.”
“Dan kamu pilih pelukan asisten daripada komunikasi sama istrimu sendiri?”