Seketika ruang tamu terasa lebih dingin. Bintang terdiam. Baru kali ini Bulan bicara dengan suara tegas. Tidak menangis, tidak membentak, tapi mantap. Seolah menyuarakan luka yang selama ini disimpannya sendiri.
Esoknya, suasana rumah masih dingin. Tapi anehnya, Bintang tak lagi marah. Ia tampak termenung lebih banyak, bahkan tidak membanting pintu seperti biasanya.
Di kantor, ia teringat kalimat Bulan. “Aku istrimu, bukan Bonekamu…”
Bintang mulai bertanya dalam hati: Sudah sejauh itu kah ia berubah? Sejak kapan rasa hormat dalam rumah tangga berubah jadi dominasi?
Dalam hatinya, ada rasa sesak yang belum bisa ia artikan. Tapi satu hal pasti: kata-kata Bulan telah mengguncangnya. Dan itu mungkin titik awal untuk sebuah perenungan panjang.