Akibat Child Grooming: Cinta yang Membawa Luka (1)
-Ilustrasi-
INTAN adalah gadis 14 tahun yang ceria, lugu, dan pandai menulis puisi. Sejak kecil, ia sering ditinggal kedua orang tuanya yang sibuk bekerja. Dunia INTAN dipenuhi oleh kesunyian rumah, layar ponsel, dan akun sosial media yang menjadi pelariannya. Dari sinilah ia mengenal sosok Bintang, seorang pria dewasa yang kerap membalas puisinya di forum sastra daring.
Awalnya, Intan mengira Bintang adalah pembaca biasa. Tapi perlahan, Bintang menjadi lebih sering hadir menanyakan kabar, memberi pujian, bahkan menasihatinya seperti sosok kakak yang selama ini tak ia miliki. Ia mulai menyebut Intan sebagai “adik manis”, lalu “putri kecilku”.

Mini Kidi--
“Kamu satu-satunya yang benar-benar mengerti puisi-puisiku, Intan,” tulis Bintang suatu malam. “Seandainya aku bisa membacakan langsung di telingamu.”
Hati Intan menghangat. Bagi remaja yang haus afeksi, kata-kata itu seperti pelukan. Ia tak sadar, batas-batas mulai bergeser. Dari pesan pribadi, beralih ke video call. Dari pujian, menjadi rayuan.
Bintang bukan hanya pandai berkata manis, tapi juga tahu kapan harus memanipulasi rasa. Ia sering berpura-pura sedih agar Intan merasa bersalah jika tak membalas cepat. Ia menciptakan ketergantungan emosional yang membuat Intan merasa hanya dia yang bisa menjadi “penolong” pria itu.
“Jangan cerita ke siapa-siapa ya… cukup kamu dan aku saja,” kata Bintang suatu malam ketika Intan mulai merasa risih dengan permintaan-permintaan aneh.
Intan mulai kehilangan rasa nyaman, tapi bingung harus bercerita ke siapa. Ia takut dianggap berlebihan, takut dimarahi orang tuanya karena dianggap main HP terus. Dan lagi… bukankah Bintang tak pernah menyentuhnya? Ia hanya bicara, hanya kirim lagu dan puisi. Hanya… hanya…
Tapi dalam kata-kata “hanya” itulah benih luka tumbuh.
Hingga suatu hari, guru BK-nya membaca puisinya yang berjudul “Aku dan Pelindung Rahasiaku” dan tahu, ini bukan sekadar fiksi.
Sumber:
