Saat Narkoba Merenggut Segalanya: Saat Rumah Tak Lagi Menjadi Tempat Aman (2)

Saat Narkoba Merenggut Segalanya: Saat Rumah Tak Lagi Menjadi Tempat Aman (2)

-Ilustrasi-

PERUBAHAN Bintang kini tak bisa lagi disangkal. Jika dulu Bulan masih mencoba berpikir positif, sekarang semua tanda itu terlalu nyata untuk diabaikan. Pulang larut sudah menjadi kebiasaan. Mata Bintang sering merah, tubuhnya makin kurus, dan emosinya meledak-ledak untuk hal sepele.

Suatu malam, Bulan mendengar suara pintu dibanting keras. Bintang masuk dengan wajah kusut dan langkah sempoyongan.


Mini Kidi--

“Kamu habis dari mana?” tanya Bulan pelan, mencoba menahan gemetar.

“Urusan kerja! Jangan ikut campur!” bentak Bintang tanpa menatap istrinya.

Anak-anak yang sudah tertidur terbangun. Putra bungsu mereka menangis ketakutan. Bulan memeluk anaknya erat-erat, menahan air mata. Ia sadar, rumah yang dulu hangat kini berubah menjadi tempat penuh kecemasan.

Hari demi hari, keadaan memburuk. Uang belanja sering kurang. Perhiasan Bulan satu per satu hilang. Awalnya ia berpikir lupa menaruh, sampai suatu pagi ia menemukan laci lemari terbuka dan kosong.

“Mas, gelang emas ibu mana?”

“Aku pinjam dulu,” jawab Bintang singkat.

“Pinjam buat apa?”

“Udah, jangan cerewet!”

Bulan terdiam. Dadanya sesak. Ia tahu, ini bukan lagi sekadar dugaan.

Di tempat kerja, Bintang mulai sering absen. Atasannya memperingatkan, tapi ia tak peduli. Yang ia kejar bukan lagi tanggung jawab, melainkan sensasi singkat yang membuat kepalanya terasa “ringan”. Setiap kali efek itu hilang, ia jadi gelisah, marah, dan tak sabar.

Suatu sore, Bulan memberanikan diri bicara dari hati ke hati.

Sumber: