Cinta Terlarang Asisten Bos Besar: Menjemput Maaf atau Melepaskan (3)

Cinta Terlarang Asisten Bos Besar: Menjemput Maaf atau Melepaskan (3)

-Ilustrasi-

WAKTU telah bergulir tiga bulan sejak badai itu menerjang rumah tangga Bintang dan bulan. Rumah mereka tidak lagi gaduh oleh amarah, tapi juga belum sembuh oleh kehangatan. Yang tersisa hanya sisa-sisa cinta yang dicoba untuk dipungut satu per satu dengan hati-hati, dengan ragu.

Bintang mulai rutin ikut sesi konseling pernikahan. Ia ingin mengerti, bukan hanya didengar. Ia ingin belajar mengobati luka yang ia torehkan sendiri. Tapi setiap kali ia mencoba mendekati Bulan, perempuan itu tetap menjaga jarak. Bukan karena benci. Justru karena takut kembali terluka.


Mini Kidi--

Suatu malam, saat anak-anak sudah terlelap, mereka duduk bersama di teras. Bulan membuka suara lebih dulu.

“Aku bukan perempuan yang mudah menyerah, Mas. Tapi aku juga bukan perempuan yang bisa dicintai setengah hati.”

Bintang menatap mata istrinya yang kini lebih kuat, lebih tenang. “Aku sadar sekarang. Cinta bukan cuma janji. Tapi konsistensi. Dan aku gagal di situ.”

“Kita gagal bersama, Mas,” kata Bulan. “Kamu mungkin salah karena membuka pintu untuk orang lain. Tapi aku juga salah karena terlalu sibuk bertahan tanpa pernah menunjukkan lelahku.”

Ada jeda. Angin malam meniupkan keheningan yang menyayat.

“Aku tanya sekali lagi,” ujar Bulan, suara bergetar. “Kita ini masih sama-sama mau memperbaiki, atau sebenarnya kita cuma takut kehilangan nama baik?”

Bintang menarik napas panjang. “Aku masih mau, Lun. Bukan karena gengsi. Tapi karena kamu satu-satunya rumah yang aku punya.”

Air mata mengalir di pipi Bulan. “Kalau begitu, kita bangun ulang rumah ini. Tapi dari fondasi kepercayaan. Bukan lagi pura-pura bahagia.”

Setia bukan sekadar menahan diri dari godaan, tapi memilih untuk kembali pulang meski badai sedang menggoda arah.

Sumber: