Akibat Child Grooming: Langkah Menuju Pemulihan (3)

Akibat Child Grooming: Langkah Menuju Pemulihan (3)

-Ilustrasi-

WAKTU tidak serta-merta menyembuhkan luka Intan. Ada malam-malam ketika ia terbangun dengan perasaan bersalah yang tidak ia pahami. Ada hari-hari ketika ia membenci dirinya sendiri hanya karena pernah merasa “nyaman” dengan perhatian Bintang. Padahal, ia tahu sekarang—kenyamanan itu dibangun dengan manipulasi.

Di ruang konseling, Intan duduk berhadapan dengan psikolog anak yang ditunjuk sekolah. Suaranya masih gemetar saat berbicara.


Mini Kidi--

“Kadang aku mikir, kalau aku dari awal nggak bales chat dia, mungkin semua ini nggak kejadian,” ucapnya lirih.

Psikolog itu menggeleng pelan. “Intan, orang dewasa yang sehat tidak akan mencari kedekatan emosional dengan anak. Yang salah bukan kamu. Yang salah adalah orang yang tahu batas, tapi sengaja melanggarnya.”

Kalimat itu seperti membuka kunci di dalam dada Intan. Untuk pertama kalinya, ia mengizinkan dirinya berhenti menyalahkan diri sendiri.

Di sisi lain, kasus Bintang diproses secara hukum dan etika. Tidak dengan sorotan sensasional, tetapi dengan pendekatan perlindungan anak. Identitas Intan dijaga. Sekolah, orang tua, dan pihak terkait mulai belajar bahwa child grooming bukan selalu soal sentuhan fisik, tetapi tentang penguasaan emosi, kepercayaan, dan ketergantungan psikologis.

Ibu Intan akhirnya datang ke ruang konseling. Matanya sembab.

“Maafkan Mama… Mama pikir selama ini kamu baik-baik saja,” ucapnya sambil memeluk Intan erat.

Intan menangis di bahu ibunya. Tangis yang selama ini ia tahan. “Aku cuma pengin didengerin, Ma.”

Sejak hari itu, rumah mereka berubah. Tidak sempurna, tapi lebih terbuka. Ponsel bukan lagi barang yang diawasi dengan curiga, melainkan jembatan dialog. Orang tuanya belajar mendengar tanpa menghakimi. Intan belajar berkata jujur tanpa takut disalahkan.

Beberapa bulan kemudian, Intan diminta menulis esai untuk majalah sekolah. Judulnya sederhana: “Aku Pernah Hampir Terjebak, Tapi Aku Selamat.”

Di akhir tulisannya, ia menulis:

“Jika kamu merasa seseorang membuatmu nyaman tapi sekaligus takut, itu bukan rasa aman. Jika kamu diminta merahasiakan hubungan dari orang dewasa yang kamu percaya, itu bukan persahabatan. Dan jika kamu bingung harus bercerita ke siapa, ingat diam bukan perlindungan, bicara adalah awal keselamatan.”

Sumber: