Akibat Child Grooming: Luka yang Diabaikan (2)

Akibat Child Grooming: Luka yang Diabaikan (2)

-Ilustrasi-

INTAN, kamu kenapa akhir-akhir ini kelihatan murung?” tanya Bu Rini, guru BK yang sudah beberapa kali memanggil INTAN ke ruang konseling. Wajah INTAN terlihat pucat, dan matanya sembab seperti habis menangis semalaman.

Intan hanya diam. Kedua tangannya menggenggam erat rok seragamnya. Dadanya sesak. Rasanya campur aduk: malu, bingung, marah, takut. Namun dalam diamnya, ada harapan kecil mungkin ini saatnya bicara.


Mini Kidi--

“Tidak apa-apa, Bu… cuma capek belajar,” jawabnya akhirnya dengan suara nyaris tak terdengar.

Bu Rini tak memaksa. Ia hanya tersenyum lalu berkata, “Ibu membaca puisimu yang terakhir. Tentang pelindung yang tak terlihat. Indah, tapi terasa seperti jeritan dalam diam.”

Intan menunduk makin dalam. Air matanya mengalir diam-diam.

Bu Rini mengambil tisu dan meletakkannya di meja. “Kalau kamu siap, ibu ada di sini. Kita bisa bicara kapan saja.”

Hari itu, Intan belum bicara apa-apa. Tapi malamnya, ia memutuskan menghapus semua pesan dari Bintang. Ia mulai meragukan semuanya. Bintang yang awalnya terasa seperti penyelamat, kini berubah menjadi sosok yang membuatnya tak bisa tidur nyenyak.

Seminggu kemudian, Intan akhirnya bercerita pada Bu Rini. Tentang awal perkenalannya dengan Bintang, tentang pujian-pujian manis yang perlahan berubah jadi tekanan, dan tentang perasaan bersalah yang terus menghantuinya.

“Aku nggak tahu, Bu… apa aku salah karena membalas chat-nya? Apa aku yang membuka pintu?” ucap Intan dengan mata berkaca-kaca.

Bu Rini langsung menggenggam tangan Intan. “Tidak, kamu tidak salah. Kamu hanya anak yang sedang tumbuh, butuh teman bicara. Tapi Bintang tahu kamu rentan, dan dia sengaja memanipulasi. Itu bukan cinta, Intan. Itu bentuk kekerasan psikologis.”

Perlahan, Bu Rini mengajak Intan berdialog tentang batas aman di dunia digital, tentang hak anak untuk merasa aman, dan tentang bagaimana seseorang bisa menjadi predator bahkan hanya lewat kata-kata.

Sayangnya, ketika kasus ini dibawa ke orang tua Intan, reaksi pertama mereka justru mengejutkan.

“Anak zaman sekarang memang manja! Kalau kamu nggak main HP terus, pasti nggak begini!” bentak ayahnya. Ibu Intan menangis, tapi lebih karena malu pada tetangga, bukan karena khawatir pada anaknya.

Sumber: