iklan HUT R!

Cinta yang Tak Direstui (1): Bukan Kemewahan, Hanya Secangkir Kedamaian

Cinta yang Tak Direstui (1):  Bukan Kemewahan, Hanya Secangkir Kedamaian

ilustrasi sejuta kisah rumah tangga saat pertemuan.--

Hampir enam tahun lamanya Titi terperangkap dalam pelukan Elan. Di mata dunia, di mata kerabat dan teman-temannya, Elan adalah sesosok pria impian. Seorang pengusaha pet shop yang sedang menanjak suksesnya, tampan, supel, dan bergaris masa depan gemilang. setias

Betapa serasinya mereka, sebab Titi sendiri memegang posisi mentereng di bagian legal sebuah perusahaan ternama. “Kalian sudah begitu lama menjalin kasih. Kapan melangkah ke pelaminan, Ti?” cercaan pertanyaan itu berulang kali merajam pendengarannya.

Titi hanya sanggup mengulas senyum tipis—sebuah senyuman yang menyembunyikan luka paling dalam. Tak seorang pun tahu, di balik kemegahan cinta yang tampak sempurna itu, Titi kerap meratapi nasibnya dalam kesendirian kamar yang dingin. 

Ya, Elan memang mencintainya dengan begitu hebat. Namun, cinta itu perlahan berubah menjadi cengkeraman ketakutan yang mencekat leher. Elan sosok yang temperamental. Jika keinginannya tak dituruti, nada suaranya berubah membentak. Kata-kata kasar dan makian tajam kerap menghujam dada Titi, membuatnya merasa kerdil dan tak berharga.

BACA JUGA:Tak Pernah Cukup dengan Satu Wanita (6): Sirnanya Permata Jiwa di Ujung Kerakusan Cinta


Mini kidi--

“Aku begini karena aku sangat mencintaimu, Ti! Aku takut kehilanganmu!” bisik Elan penuh penyesalan setiap kali usai melampiaskan amarahnya. Dan bertahun-tahun Titi terbuai oleh racun asmara itu. Sampai akhirnya, jiwanya tak sanggup lagi menampung duka. “Aku tak bisa melanjutkannya lagi, Lan...” ucap Titi lirih, matanya berkaca-kaca.

Elan terperanjat, matanya membelalak tak percaya. “Setelah hampir enam tahun kita lalui bersama, Ti?!”ucap Elan.

Titi mengangguk perlahan, air matanya menetes membasahi pipi. “Aku lelah, Lan... Aku lelah mencintai seseorang yang justru membuatku selalu ketakutan setiap kali dia murka.” Jalinan asmara yang terbina bertahun-tahun itu pun kandas. Bukan karena tinta cinta telah mengering, melainkan karena Titi menyadari satu hal: cinta sejati tak seharusnya merenggut ketenangan jiwanya.

Sembilu duka perlahan terobati ketika beberapa bulan kemudian, takdir mempertemukannya kembali dengan Abi—sahabat masa kecilnya yang sempat hilang ditelan waktu.

Yang tak pernah disangka Titi, Abi ternyata mengenal sosok Elan karena lingkaran pergaulan mereka yang pernah bersinggungan. “Jadi... selama ini kau mengenal Elan?” tanya Titi dalam sebuah perjumpaan. Abi menatap manik mata Titi penuh kelembutan lalu mengangguk. “Ya. Karena itulah aku memilih menahan diri dan tak pernah hadir di kehidupanmu sewaktu kau masih bersamanya. “Lalu... bagaimana dengan sekarang?” goda Titi.

BACA JUGA:Tak Pernah Cukup dengan Satu Wanita (5): Jeritan Jiwa yang Terhempas di Balik Pintu Hati


Gempur Rokok Illegal--

Sebuah ukiran senyum hangat terbit di bibir Abi. “Sekarang kau sudah bebas, Ti.” Titi tertawa kecil, rasa hangat menjalar di dadanya. “Lalu?”. “Lalu... izinkan aku mengejarmu, mengobati luka hatimu.”

Sumber: