Puber Kedua Membawa Petaka (1) Tua-Tua Keladi
ilustrasi--
Bintang mulai berubah di usia yang tidak lagi muda.
Bukan perubahan besar yang langsung terlihat. Awalnya hanya hal-hal kecil. Ia lebih sering bercermin. Mulai memperhatikan penampilan. Membeli parfum baru. Mengganti gaya berpakaian.
Bulan sempat tersenyum melihatnya.
“Tumben rapi sekali,” godanya.
Bintang hanya tertawa ringan. “Biar nggak kelihatan tua.”
Kalimat itu terdengar biasa.
Namun perlahan, perubahan itu tidak lagi terasa ringan.
Bintang mulai sering pulang lebih malam. Lebih sering keluar tanpa alasan jelas. Ponselnya tidak pernah jauh dari tangan. Bahkan saat makan, matanya lebih sering ke layar daripada ke arah Bulan.
“Kerjaan?” tanya Bulan suatu malam.
“Iya,” jawab Bintang singkat.
Namun ada sesuatu yang berbeda. Bukan hanya kesibukan tapi semangat yang aneh. Seperti seseorang yang menemukan kembali sesuatu yang lama hilang.
Suatu malam, saat mereka duduk berdua, Bintang tiba-tiba berkata,
“Aku merasa hidupku… kurang.”
Bulan menoleh. “Kurang apa?”
“Aku seperti melewatkan banyak hal.”
Kalimat itu membuat Bulan terdiam.
Selama ini mereka menjalani hidup yang sederhana. Tidak mewah, tapi cukup. Tidak sempurna, tapi stabil.
Namun bagi Bintang, stabilitas mulai terasa seperti kebosanan.
Di luar rumah, ia mulai menikmati perhatian yang tidak ia dapatkan di rumah. Tawa yang lebih ringan. Percakapan yang tidak penuh tanggung jawab. Perasaan seperti kembali muda.
Ia tidak menyebutnya kesalahan.
Ia menyebutnya… kesempatan kedua untuk merasa hidup.
Suatu hari, Bulan menemukan sesuatu yang tidak ia cari.
Sebuah chat.
“Seru ya kalau sama kamu. Aku jadi lupa umur.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi cukup untuk menjelaskan semuanya.
Malam itu, Bulan tidak langsung marah.
Ia hanya duduk diam, menatap suaminya yang kini terasa seperti orang lain.
“Mas,” katanya pelan,
“kamu lagi cari apa?”
Bintang tidak langsung menjawab.
Karena sebenarnya ia juga tidak tahu.
Ia hanya tahu satu hal, ia tidak ingin merasa tua, tidak ingin merasa tertinggal, dan tidak ingin hidupnya terasa selesai.
Namun yang tidak ia sadari, dalam usahanya mencari kembali “hidup”,
ia mulai kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting
rumah yang sudah ia bangun bertahun-tahun.
Dan di titik itulah, puber kedua bukan lagi soal perubahan.
Ia menjadi awal dari petaka. (atp/fer/bersambung)
Sumber:







