Merah Merona Akhirnya Melejit
Muhammad Ridho--
Warna merah cabai di lapak-lapak pasar belakangan ini tak lagi sekadar simbol gairah rasa.
Ia telah berubah menjadi alarm yang menyulut resah di dada para ibu rumah tangga dan pedagang kecil.
Kenaikan yang tak wajar ini bukan sekadar urusan hukum pasar tentang permintaan dan penawaran.
BACA JUGA:Polisi Lagi Dicoba atau Justru Sedang Mencoba?

Kidi--
Ada aroma kecemasan bahwa di balik pedasnya harga, terdapat permintaan yang melonjak atas komoditas itu sendiri atau bahkan ada tangan-tangan tak terlihat yang mencoba bermain di air keruh.
Inilah yang kemudian memanggil para penegak hukum, Satgas Pangan Polri, untuk meninggalkan meja kantor dan turun langsung ke riuhnya lorong-lorong pasar tradisional.
BACA JUGA:Menyambut Ramadan di Tengah Luka Sosial
Kehadiran seragam di antara tumpukan sayur-mayur adalah sebuah pesan tegas.
Langkah sepatu bot di lantai pasar yang becek menjadi ritme pengawasan, memastikan setiap rantai distribusi berjalan dengan jujur, mulai dari petani yang berkeringat di ladang hingga ke tangan konsumen di meja makan.
Petugas menyusuri gudang-gudang, memeriksa catatan distribusi, dan berdialog dengan para pedagang yang juga terjepit keadaan.
BACA JUGA:Antara Lembaran Kertas dan Tangis yang Tak Bersuara
Hasil inspeksi mendadak (sidak) menguak tabir yang menyesakkan. Di lapak-lapak pedagang, harga telah melompat jauh meninggalkan batas kewajaran, menembus angka Rp120.000 per kilogram.
Sebuah lonjakan yang tak hanya mengejutkan lidah, tapi juga mencekik urat nadi ekonomi rumah tangga.
Sumber:



