HPN 2026

Warga Lidah Wetan Surabaya Mengaku Diintimidasi, Kadis DSDABM Membantah

Warga Lidah Wetan Surabaya Mengaku Diintimidasi, Kadis DSDABM Membantah

Kadis DSDABM Surabaya Hidayat Syah --

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga Surabaya, Hidayat Syah, membantah keterlibatan anggotanya terkait dugaan intimidasi terhadap warga di Jalan Lidah Wetan, Rabu 11 Februari 2026.

Hidayat menegaskan informasi yang menyebut petugas tersebut berasal dari DSDABM tidak benar.

"Tidak benar itu petugas dari DSDABM," tegasnya saat dikonfirmasi.


Mini Kidi--

Hidayat menjelaskan ciri pakaian yang disebutkan tidak sesuai dengan seragam resmi pegawai DSDABM.

"Pegawai DSDABM bajunya warna merah, bukan putih seperti yang disebutkan," tandas Hidayat.

Menurutnya, kedatangan orang yang dimaksud bukan bagian dari tugas maupun instruksi dinas.

BACA JUGA:Kelompok RUSA Surabaya Berdayakan Ibu Rumah Tangga Romokalisari Jadi Produsen Tempe

Sementara itu, sebelumnya seorang perempuan bernama Yaidah mengaku mendapat perlakuan tidak menyenangkan saat rumahnya didatangi sejumlah pria yang mengaku sebagai petugas DSDABM Surabaya, Senin 26 Januari 2026 sekitar pukul 10.00.

Menurut Yaidah, enam orang masuk ke dalam rumah, sementara beberapa lainnya menunggu di luar saat ia sedang sendirian karena suaminya bekerja di ladang.

"Waktu itu saya sendirian. Mereka langsung masuk dan menekan saya untuk tanda tangan surat yang sudah mereka siapkan," ujarnya kepada Memorandum, Selasa 10 Februari 2026.

BACA JUGA:Tangis Haru Jemaah Bakkah Travel Warnai Tawaf Wada Depan Kakbah

Dalam surat tersebut, Yaidah diminta merobohkan ribuan tanaman yang ia tanam di lahan yang disebut sebagai tanah negara atau milik Balai Pengelolaan Wilayah Sungai.

Yaidah  juga mengaku diminta tidak mengadu atau melapor kepada pihak mana pun serta hanya menerima uang kerohiman Rp 1 juta sebagai pengganti biaya pupuk.

BACA JUGA:Minimalisir Banjir Surabaya, Saluran Air Jalan Tanjungsari Dikuras Total

Yaidah menyebut selama ini menggarap lahan tersebut dengan menanam sekitar 3.000 pohon pisang, buah naga, dan pepaya di atas lahan yang sebelumnya menjadi tempat pembuangan sampah sejak masa pandemi Covid-19.

"Dulu bau dan kotor karena jadi tempat sampah. Saya bersihkan, saya tanami pisang, pepaya, dan buah naga. Warga juga senang karena lingkungannya jadi bersih," jelasnya. (rio)

 
 

Sumber: