Saat Narkoba Merenggut Segalanya: Awalnya Cuma Penasaran (1)
-Ilustrasi-
BINTANG dikenal sebagai sosok yang aktif, mudah bergaul, dan selalu menjadi pusat perhatian di lingkungan tempat tinggalnya. Ia punya pekerjaan tetap sebagai teknisi lapangan di perusahaan jaringan internet, dan di luar itu, ia senang nongkrong di warung kopi sepulang kerja. Hidupnya sederhana, namun tampak tak kekurangan apa pun.
Namun, di balik senyum dan canda yang ia tunjukkan setiap hari, Bintang menyimpan rasa lelah dan tekanan batin yang tidak ia bagi ke siapa pun terutama setelah rumah tangganya dengan Bulan mulai terasa hambar. Anak-anak makin besar, tanggung jawab meningkat, dan hubungan dengan sang istri semakin kaku. Mereka bicara hanya jika perlu. Kadang, bahkan hanya untuk bertengkar.

Mini Kidi--
Suatu malam, saat nongkrong dengan teman-temannya, ada yang menawarkan “obat kuat biar nggak gampang capek kerja.”
“Cobain aja, Bang. Ini bukan narkoba kok, cuma buat tenang. Gak bakal bikin ketagihan,” kata salah satu temannya sambil menyodorkan bungkus kecil berisi pil.
Awalnya Bintang ragu. Tapi malam itu pikirannya sedang penuh. Ia merasa hampa, lelah, dan ingin sekali ‘lari’ sejenak dari masalah rumah. Akhirnya ia mencoba satu pil, dan malam itu ia tertawa lebih lepas dari biasanya.
Keesokan harinya, Bintang merasa badannya lebih segar. Ia merasa lebih produktif di tempat kerja dan mulai percaya bahwa apa yang ia konsumsi malam sebelumnya hanyalah “penolong”.
Namun, satu kali tidak pernah cukup.
Seminggu kemudian, ia mulai mencarinya sendiri. Ia tidak hanya meminumnya saat nongkrong, tapi mulai membawa satu-dua pil saat kerja. Ia merasa lebih fokus, lebih percaya diri, dan lebih ‘berdaya’. Tapi di balik itu semua, emosinya mulai tidak stabil, dan ia mulai sering pulang malam. Bulan curiga, tapi Bintang selalu menjawab datar.
“Kerjaan lagi padat, jangan banyak tanya.”
Hari demi hari, perubahan Bintang makin kentara. Ia mulai menarik uang lebih banyak dari biasanya, tagihan rumah mulai terlambat dibayar, dan wajahnya tampak semakin tirus. Ia juga jadi lebih mudah marah, dan anak-anak pun mulai takut jika ayah mereka pulang.
Bulan, yang tadinya hanya menaruh curiga, mulai bertanya ke sahabat lama Bintang, berharap mendapatkan jawaban.
“Aku cuma mau tahu, kenapa Bintang berubah. Dia bukan suami yang dulu,” ujar Bulan dengan suara gemetar.
Sahabat itu pun diam lama sebelum menjawab lirih.
Sumber:


