selamat menunaikan ibadah ramadan 2026

Perjalanan Sunyi Andik Mencari Kebenaran Iman, Gagal Jadi Pastor Malah Temukan Islam

Perjalanan Sunyi Andik Mencari Kebenaran Iman, Gagal Jadi Pastor Malah Temukan Islam

Andik Andrianto (kiri) bersama pengurus dan pembina Yayasan Rumah Singgah Mualaf.-Wendy Setiawan-

Keyakinan seseorang dapat berubah dengan banyak cara. Terkadang, hidayah itu datang melalui hal-hal sepele yang sering kali tidak diduga banyak orang.

Seperti itulah garis besar perjalanan spiritual Andik Andrianto, pria berusia 35 tahun asal Kutisari Utara, Surabaya, yang memeluk Islam bermula dari sebuah pandangan dalam buku.

BACA JUGA:Transformasi Niluh Putu Eka Menjadi Muslimah, Gema Azan di Langit Denpasar yang Mengubah Takdir

Kisah ini menarik mundur ke medio 2006, saat Andik, sapaan Andik Andrianto, masih duduk di bangku SMP di Madiun. Kala itu, ia hidup di tengah keluarga non-muslim yang taat memeluk keyakinan Katolik.

Menjelang kelas 10, sebagai bagian dari kewajiban sebelum dibaptis, Andik harus mendalami pelajaran Katekumen.

Didampingi seorang suster, Andik mulai mempelajari dasar-dasar keyakinan tersebut, mulai dari tata cara ibadah di gereja hingga mendalami alkitab.

BACA JUGA:Sujud Teduh Putri Pendeta Gereja Bethany, Jemput Hidayah Lewat Kepolosan Sang Buah Hati

Setelah lulus dan resmi dibaptis, suster yang membimbingnya melihat potensi besar dalam diri Andik dan menyarankannya untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah seminari demi menjadi seorang pastor.

Namun, di tengah pendalaman itu, nuraninya mulai terusik oleh berbagai pertanyaan teologis.

BACA JUGA:Ikhtiar Icha Yustin Kwandou Mendalami Makna Tauhid, Antara Restu Ibu dan Panggilan Kalbu

"Semakin saya mendalami alkitab, saya banyak menemukan kebingungan. Ada banyak yang berbeda. Akhirnya saya memutuskan tidak lanjut ke seminari. Saya memilih masuk ke sekolah umum di SMK, yang mana saat itu dalam satu angkatan hanya saya sendiri yang non-muslim," kenang Andik pada Selasa 24 Februari 2026.

Di usia belia, ketika remaja lain sibuk mencari jati diri lewat pergaulan, Andik justru tenggelam dalam pencarian iman yang sunyi. Memasuki semester kedua kelas 10, sebuah buku yang dibawa temannya membuka babak baru.

Buku berjudul Alquran Berbicara Tentang Kristen karya Ustaz Mashud memicu dialektika batin dalam dirinya. Ia tidak menelan mentah-mentah isi buku itu, melainkan melakukan studi komparatif dengan kitab suci yang selama ini ia pelajari.

BACA JUGA:Perjalanan Iman dan Toleransi Tanjaya, Cahaya Hati di Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya

Sumber: