Transformasi Niluh Putu Eka Menjadi Muslimah, Gema Azan di Langit Denpasar yang Mengubah Takdir
Niluh Putu Eka bersama kedua putrinya.-Alif Bintang-
Bagi sebagian orang, hidayah adalah misteri yang datang tanpa mengetuk. Namun bagi Niluh Putu Eka, hidayah adalah panggilan yang harus dikejar meski harus melintasi pulau dan merelakan kenyamanan rumah di tanah kelahirannya, Bali.
Dua belas tahun lalu di bawah terik matahari Denpasar, hidup perempuan yang saat itu berusia 24 tahun ini berubah total.
BACA JUGA:Sujud Teduh Putri Pendeta Gereja Bethany, Jemput Hidayah Lewat Kepolosan Sang Buah Hati
Tumbuh dalam tradisi Hindu yang kuat bersama keluarga besar, kumandang azan Zuhur siang itu tiba-tiba terdengar berbeda dan menggetarkan jiwanya, seolah menjadi magnet yang menarik langkah kakinya untuk mencari sumber suara.
"Mungkin ini yang namanya hidayah. Saat itu, saya tiba-tiba saja merasa terpanggil. Saya ingin mendekat ke asal suara itu. Hati saya terketuk," kenang Eka saat ditemui di Masjid Assalam, Gununganyar, Surabaya.
Tanpa bekal pengetahuan agama sedikit pun, Eka berjalan jauh mengikuti gema suara tersebut hingga tiba di depan sebuah masjid.
BACA JUGA:Ikhtiar Icha Yustin Kwandou Mendalami Makna Tauhid, Antara Restu Ibu dan Panggilan Kalbu
Dengan kepolosan yang tulus, ia mengikuti gerakan orang-orang di sekitarnya, mulai dari mengambil air wudu, mengenakan mukena, hingga ikut bersujud di barisan jemaah.
"Saya masuk ke masjid, lalu mengambil air wudu, mukena, dan salat. Saya ngikutin orang-orang. Kemudian selepas salat, hati saya entah mengapa terasa lebih tenang dan nyaman," ungkapnya dengan mata berbinar menceritakan momen spiritual pertamanya.
BACA JUGA:Merinding Baca Syahadat, Kisah Perjalanan Spiritual Angga Wibisono Jadi Mualaf
Namun, pulang dari masjid, Eka menyadari bahwa jalannya tidak akan mudah karena ia mulai mengumpulkan perlengkapan salat dan Alquran secara sembunyi-sembunyi hingga memicu pertentangan keras dari keluarga besar.
BACA JUGA:Perjalanan Iman dan Toleransi Tanjaya, Cahaya Hati di Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya
Barang-barang ibadahnya sempat disembunyikan, namun semangatnya tak padam, terutama karena ia menemukan kekuatan pada sosok ayahnya yang menjadi oase di tengah penolakan keluarga.
“Hanya ayah saya yang mendukung. Bagi beliau, tidak masalah beragama apa pun, yang terpenting baik kepada sesama dan saling membantu," tutur Eka mengenang kebijakan sang ayah yang melapangkan hatinya.
Sumber:




