Kisah Sejuk Liana Wardani, Islam dan Meja Makan Lintas Iman
Liana Wardani bersama suami.-Alif Bintang-
Di sebuah sudut hunian yang tenang di kawasan Bulak Rukem, Surabaya, Liana Wardani menyesap teh hangatnya dengan raut wajah yang memancarkan ketenangan.
Bagi perempuan keturunan Tionghoa ini, hidup bukan sekadar tentang garis keturunan atau tradisi yang diwariskan, melainkan sebuah pencarian panjang menuju rumah yang sesungguhnya.
BACA JUGA:Labuhan Terakhir Ismail, Dari Taiwan Menjemput Cahaya Islam di Sidoarjo
Lahir dan dibesarkan dari rahim seorang ibu penganut Konghucu yang taat, Liana menghabiskan masa mudanya dalam keberagaman. Namun, di balik keriuhan perayaan tradisi, ada ruang kosong di hatinya yang lama tidak terisi.
Ia merasa ada sesuatu yang lebih besar dan relevan dengan nuraninya. Keputusan Liana memeluk Islam tidak datang dalam semalam. Sebagai pribadi yang tidak ingin melompat tanpa melihat, ia sempat bergulat lama dengan pikirannya sendiri.
Liana melakukan pengembaraan intelektual dan spiritual, mulai dari membedah kisah para nabi, menyelami terjemahan Alquran, hingga berdiskusi panjang dengan tokoh agama.
BACA JUGA:Perjalanan Fransiskus Hermawan Priyono Menjadi Imam Keluarga, Tangis Bahagia di Sajadah Subuh
“Saya tidak ingin beragama hanya karena ikut-ikutan. Saya mencari kebenaran yang bisa diterima oleh akal sekaligus menyejukkan hati. Saat membaca tentang bagaimana Islam memuliakan manusia, saya merasa seperti sedang membaca peta jalan pulang," kenangnya.
Bagi Liana, Islam terasa sangat relevan dengan realitas kehidupan. Ada alasan religi mendalam yang menggetarkan jiwanya, yakni konsep tauhid. Ia merasa takjub pada gagasan bahwa manusia hanya berserah pada satu pencipta tanpa perantara.
Kepasrahan total itulah yang membuatnya merasa merdeka sekaligus terlindungi.
Langkah spiritualnya semakin mantap saat dipersunting oleh seorang pengusaha Muslim asal Bulak Banteng. Seiring waktu, keislaman Liana bukan lagi sekadar status di KTP. Di usianya kini, ia justru semakin giat menjemput pahala melalui salat lima waktu serta puasa wajib dan sunnah yang dijalankan dengan telaten.
BACA JUGA:Transformasi Keyakinan Berliana Murphi, Dari Keraguan Menuju Kemantapan Berislam
Sebagai nenek dengan tiga cucu, pengusaha material rumah dan bangunan ini kini lebih sering terlihat mengenakan pakaian ihram di tanah suci. Umrah menjadi caranya untuk mengisi baterai iman.
Namun, baginya kesalehan tidak hanya berhenti di atas sajadah karena di meja makan keluarga besarnya, perbedaan adalah hidangan sehari-hari.
Sumber:




