Mahasiswa Teknik Elektro Untag Surabaya Ciptakan Alat Deteksi Kualitas Minyak Goreng

Mahasiswa Teknik Elektro Untag Surabaya Ciptakan Alat Deteksi Kualitas Minyak Goreng

Adhitiya Dwijaya memaparkan hasil penelitiannya.--

SURABAYA, MEMORANDUM.CO.ID-Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Adhitiya Dwijaya Ariyanto, berhasil menciptakan alat inovatif.

Yakni, alat pendeteksi kualitas minyak goreng sawit berdasarkan warna, kejernihan, dan bau berbasis fuzzy.

Adhitiya mengungkapkan bahwa ide penelitian ini muncul saat menjalani magang di sebuah perusahaan minyak goreng ketika masih menempuh pendidikan Diploma 3 di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS).

BACA JUGA:Imigrasi Gelar Operasi Wira Waspada Perdana di Tahun 2025

BACA JUGA:Jual Pemandu Lagu ke Pria Hidung Belang, Mami Angela Dituntut 1 Tahun Penjara


--

“Saya melihat proses pengolahan minyak goreng yang tanpa pewarna memiliki warna kuning cerah. Namun di rumah, banyak ibu-ibu menggunakan minyak goreng berulang kali hingga warnanya berubah coklat pekat. Dari situ, saya mulai bertanya-tanya apakah perubahan warna ini mempengaruhi kualitas minyak,” jelasnya, Jumat, 21 Februari 2025.

Dengan bimbingan dosen Lutfi Agung Swarga dan HM Balok Hariadi, Adhitiya menggali lebih dalam standar kualitas minyak goreng berdasarkan parameter yang diatur dalam Standar Nasional Indonesia (SNI), seperti aroma, kejernihan, dan titik didih.

Adhitiya lalu memilih tiga parameter yang dapat diuji dengan alat sederhana, yaitu warna, kejernihan, dan bau.

“Ketiga parameter ini dapat dideteksi menggunakan sensor. Data dari ketiga sensor kemudian dianalisis menggunakan metode fuzzy logic untuk menentukan apakah minyak goreng masih layak digunakan atau tidak,” ungkapnya.

Metode fuzzy logic dipilih karena mampu mengolah berbagai variabel input untuk pengambilan keputusan secara cerdas dan efektif.

Alat ini dirancang menggunakan tiga sensor utama, yaitu sensor warna, sensor kejernihan, dan sensor gas untuk mendeteksi bau.

Proses pengembangan alat memakan waktu 6 bulan, meliputi pembuatan perangkat keras, pemrograman mikrokontroler, dan pengembangan antarmuka grafis (GUI) menggunakan MATLAB.

Pengujian dilakukan pada berbagai sampel minyak goreng, mulai dari minyak baru hingga minyak yang telah digunakan beberapa kali.

Sumber: