FPPIP Kabupaten Jember Gelar Refleksi Hari Lahir Pancasila, Antara Cita-cita dan Kenyataan
Ketua FPPI Kabupaten Jember Prof. Dr. Bambang Soepeno, M.Pd., mendampingi narasumber Drs. Andang Subaharianto, M.Hum (Rektor Untag Banyuwangi), --
Di sanalah ruang demokratik titik temu antara pemimpin pemerintahan dan rakyat. Acuannya sama, yakni Pancasila. Arah tujuannya pun sama, yakni kesejahteraan rakyat. Namun, ada yang amat penting dan tak boleh dilupakan – sebagaimana diingatkan pada bagian Penjelasan UUD 1945 – yakni “semangat penyelenggara negara, semangat pemimpin pemerintahan”.
"Kata “semangat” patut diperhatikan. Semangat yang dimaksud adalah semangat untuk gotong royong, bukan individualisme. Berikut saya kutip pernyataan di dalam Penjelasan UUD 1945. “Yang sangat penting dalam pemerintahan dan dalam hal hidupnya negara ialah semangat, semangat para penyelenggara negara, semangat para pemimpin pemerintahan. " beber Andang.
Yang muncul lalu semangat “ngedan”. Semangat semau-maunya sendiri dalam mengelola kekuasaan. Di hadapan ideologi “ngedan”, pasal-pasal peraturan perundang-undangan tak akan ada artinya, meski dibuat dengan paradigma Pancasila.
Pasal-pasal itu bisa disiasati, diakali, bahkan diubah sesuai selera dan kepentingannya. Ranggawarsita mengingatkan, “Begja-begjane kang lali, luwih begja kang éling lawan waspada” (Sebahagia-bahagianya orang yang lalai, akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada).
Saat berpidato pada sidang BPUPK, 1 Juni 1945, Bung Karno juga mengingatkan, “Tidak ada satu Weltanschauung dapat menjadi kenyataan, menjadi realiteit, jika tidak dengan perjoangan.” Dan, “éling lawan waspada” (dimaknai secara progresif) adalah bagian dari perjuangan tersebut. Butuh kesabaran revolusioner. Hidup Pancasila! (edy)
Sumber: