Muktamar NU, Kiai Afifuddin Muhajir Kuda Hitam Rais ‘Aam PBNU?
Abd. Aziz bersilaturahmi dengan Kiai Afifuddin Muhajir.(ist)--
Oleh: ABD. AZIZ, S.H., M.H.
Advokat, Legal Consultant, Mediator Non-Hakim, Lecture, Columnist, dan CEO Firma Hukum PROGRESIF LAW, Jakarta. Kini, Ketua Umum DPP Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK)
Kala itu, Selasa, 24 Maret 2026, penulis bergegas memecah malam. Menembus arus balik lebaran Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah yang padat merayap. Menyusuri Jalan Provinsi menuju tempat Wakil Rais 'Aam PBNU, Kiai Afifuddin Muhajir yang sedang berada di kawasan Gondanglegi, Kabupaten Malang. Ulama kenamaan yang dikenal alim allamah—memiliki kedalaman ilmu luar biasa—dalam bidang Fiqih dan Ushul Fiqih.
Sungguh, ini bukan sembarang sowan, silaturrahim. Melainkan, menemui seorang Faqih dan Ushuli. Ahli teks (nash) dan konteks (siyaq) serta piawai dalam merumuskan hukum Islam dan fiqih tata negara (fiqh siyasah). Sebuah proses intelektual atau metode penggalian dan penyimpulan hukum Islam (fiqih) dari sumber utama yang otoritatif. Tak ayal, pemikirannya kerap dijadikan rujukan dalam pengambilan fatwa-fatwa moderat di lingkungan Nahdlatul Ulama. Pun, dalam melihat Islam dan Negara. Baginya, Pancasila tidak bertentangan dengan syariat Islam. Kiai Afif—biasa disapa—, mampu memadukan tradisi Pesantren dalam konteks ke-Indonesiaan secara progresif.
BACA JUGA:Situbondo Siap Jadi Tuan Rumah Muktamar PBNU Ke-35

Mini Kidi Wipes.--
Sejurus kemudian, penulis tiba di sebuah rumah berarsitektur minimalis dengan tembok warna netral. Kiai Afif duduk lesehan di lantai dengan posisi bersila. Mengenakan peci maron, sarung, dan setelan baju koko, ia berdiri dari duduknya. Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Sukorejo, Situbondo ini menyalami dan mempersilahkan duduk di sampingnya. Sebuah kehormatan, bersebelahan dengan seorang Fuqaha yang sederhana dan rendah hati. Entah kenapa, hati terasa tenang, sejuk, dan nyaman.
Namun, penulis yang belum apa-apa—karena memang bukan siapa-siapa—sungkan bukan kepalang. Segan, malu, dan enggan padanya. Apalagi, setelah bertegur sapa, sosok kesayangan Kiai As’ad Syamsul Arifin—mediator pendirian NU melalui isyarat tongkat dari Syaikhona Kholil kepada Kiai Hasyim Asy’ari ini—menyuguhkan sendiri, minuman untuk tamu. Sikapnya lembut dan bersahaja. Jauh dari kesan kaku. “Silakan diminum!” pintanya dengan ramah. “Baik, Kiai,” respon penulis singkat.
BACA JUGA:Akhiri Konflik Internal PBNU, Muktamar NU Disepakati Secepatnya Digelar
Setelah itu, ulama kharismatik ini berbincang tentang Nahdlatul Ulama yang hendak menggelar Muktamar NU ke-35 pada Agustus 2026. Menurut tokoh yang memiliki kontribusi besar dalam pengembangan pemikiran Fikih Tata Negara ini, rangkaian kegiatan didahului dengan Munas Alim Ulama dan Kombes NU pada bulan April 2026. Jika tak ada aral melintang, forum tertinggi yang tujuan utamanya sirkulasi kepemimpinan secara berkala (periodik), baik Rais ‘Aam maupun Ketua Umum PBNU, itu akan digelar di Pondok Gede, yang berbatasan langsung dengan Jakarta Timur.
Perbincangan mendadak tercekat saat penulis bertanya pelan. Siapa sajakah kandidat Rais ‘Aam dan Ketua Umum PBNU yang potensial berlaga? Kiai yang kesohor karena biasa berhati-hati (wara’), dan teguh meninggalkan perkara syubhat (samar) apalagi haram, ini diam seribu bahasa. Sesekali menghela napas panjang. Suasana hening. Hanya detak jam dinding yang berbunyi teratur. Penulis pun terdiam dan tertunduk. Mulut terkunci rapat. Tidak berselang lama, Kiai yang memiliki selera humor ini angkat bicara. “Kalau Mas Aziz tidak tahu, coba bertanya pada rumput yang bergoyang”.
BACA JUGA:Gelar Muktamar dan Penyempurnaan Konstitusi PBNU: Sebuah Solusi Alternatif
Tak pelak, para tamu tertawa lepas mendengar jawaban dari sosok yang dikenal sebagai simbol moralitas di kalangan Nahdliyin, itu. Penggalan akhir jawaban Kiai Afif ini, mengingatkan penulis pada lirik ikonik lagu Ebiet G. Ade, “Berita Kepada Kawan”. Metafora yang dujarkan, menyiratkan kerendahan hati, adaptabilitas, serta pentingnya menjaga keharmonisan di lingkungan NU menjelang Muktamar. Penulis mengerti, jawaban bernada humor menutup ruang (tafsir) yang berpotensi akan terjadinya “disharmoni” di antara para kandidat, baik yang menunggu di "persimpangan jalan" atau menunggu di "tikungan jalan".
Akhirnya, penulis coba mengulik hal umum, apa yang menjadi harapan Kiai Afif pada perhelatan Muktamar NU mendatang. Dengan jelas ia menjawab. “Saya berharap, Muktamar NU berjalan tanpa adanya politik uang. Selain menghindarkan ulama dari praktik pragmatisme politik yang potensial merusak, juga tidak mencederai tujuan Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan NU pada 31 Januari 1926 di Surabaya. Apa, itu? Menegakkan ajaran Islam Aswaja yang moderat, memajukan pendidikan, sosial, dan ekonomi masyarakat. Kemudian, menyatukan ulama, menjaga persatuan bangsa, membela kepentingan masyarakat, serta menciptakan tatanan yang berkeadilan.” Itulah harapan pertama Kiai Afif.

Gempur Rokok Ilegal -----
Sumber:







