new idulfitri

Muktamar NU, Kiai Afifuddin Muhajir Kuda Hitam Rais ‘Aam PBNU?

Muktamar NU, Kiai Afifuddin Muhajir Kuda Hitam Rais ‘Aam PBNU?

Abd. Aziz bersilaturahmi dengan Kiai Afifuddin Muhajir.(ist)--

Lebih lanjut, ia memberikan saran dan rekomendasi. “Pilihlah yang memiliki rekam jejak di NU, integritasnya tak diragukan, punya keberpihakan pada umat, menyangga negara, dan tidak bermain uang dalam mengakapitalisasi dukungan. Nah, jika prosesnya sudah benar akan menghasilkan pemimpin yang benar. Bisa diharapkan membersamai umat. Khususnya, mereka yang berjibaku merawat NU, baik di wilayah, cabang, istimewa, wakil cabang, ranting dan anak ranting di daerah. Dengan demikian, NU berwibawa, dan sang pendiri bangga melihat para penerusnya mampu menjaga dan menghidupkan NU.” Demikian harapan terakhir dari Kiai Afif.

Saat ditanya, apa sesungguhnya peran penting Nahdlatul Ulama bagi masyarakat, Kiai Afif mengatakan, bahwa NU memiliki peran penting dalam mengawal toleransi kehidupan berbangsa dan bernegara. Lebih dari itu, ada tiga hal yang telah dilakukan NU selama ini. NU sebagai benteng Ahlussunnah wal Jamaah, NU sebagai pengawal moral bangsa Indonesia, dan NU sebagai penopang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Nah, kepemimpinan NU ke depan yang digawangi Rais ‘Aam dan Ketua Umum, haruslah mampu menguatkan ketiga hal tersebut secara konsisten dan berkesinambungan. Diakui atau tidak, posisi strategis keduanya, sangat menentukan wajah dan eksistensi NU, yang sejak berdiri hingga saat ini telah membentangkan arah perjuangan yang sungguh-sungguh.   

BACA JUGA:Sowan pada Rais Am PBNU

Jujur, mendengar harapan Kiai Afif pada Muktamar NU, penulis menganggukkan kepala. Serasa kembali pada zaman menjadi aktivis pergerakan dengan segudang idealisme. Selalu mendengungkan, bahwa idealisme merupakan kemewahan terbesar dalam berorganisasi. Penulis percaya, Nahdliyin mulai jengah dengan politik uang yang merendahkan warga NU, merusak integritas Muktamar, dan mematikan kaderisasi pemimpin jujur. Penulis yakin, harapan Kiai Afif akan disambut positif oleh Muktamirin: PWNU dan PCNU se-Indonesia sebagai pemilik suara sah. 

Harapan NU akan memiliki pemimpin yang visioner, terbuka lebar. Seperti, apa? Gaya kepemimpinannya berfokus pada masa depan, memiliki imajinasi inovatif, dan mampu merumuskan visi jangka panjang yang jelas. Mungkinkah pemilihan Rais ‘Aam dan Ketua Umum PBNU, seperti yang diharapkan Kiai Afif? Tentu, semua kemungkinan terbuka. Tinggal, mau atau tidak mewujudkan harapan tersebut secara bersama-sama dalam Muktamar nanti. Ingat, kesempatan itu datangnya di awal, dan sekali. Sedangkan penyesalan, datangnya di akhir, dan bertubi.

BACA JUGA:Sikapi Polemik PBNU, Pengurus Ponpes Darul Ulum Gaungkan Islah

Melihat, membaca, dan memahami integritas yang terpatri dalam pikiran, ucapan, sikap dan tidakan serta rekam kepakaran ilmu Fiqih dan Ushul Fiqih dari seorang Kiai Afifuddin Muhajir yang diakui secara luas di Indonesia, termasuk Kiai Said Aqiel Siradj—Ketua Umum PBNU, 2010-2021—, gagasan kebangsaannya yang moderat, berkontribusi nyata dalam pemikiran Fiqih Tata Negara, berpengalaman sebagai Wakil Rais ‘Aam PBNU, serta melekatnya selera humor pada gaya bicaranya yang khas dan santai, tak berlebihan jika banyak yang berpandangan—termasuk penulis—, Kiai Afif memenuhi kelayakan, kepatutan, dan kepantasan untuk dipertimbangkan menjadi Rais ‘Aam PBNU pada Muktamar yang akan dihelat kurang lebih seratus lima puluh hari lagi.   

Tak terasa, malam kian larut. Minuman yang tersaji, tinggal satu tegukan. Penulis sadar, pertemuan dengan Kiai Afif harus segera disudah, dan pamit undur diri. “Kiai, maafkan sudah mengganggu dan memperlambat istirahatnya panjenengan. Terima kasih atas waktu dan atensinya dalam berbincang tentang kawah chandradimuka para kader NU yang moderat dan berkemajuan.” Semoga NU terus menjadi jembatan moderasi, membawa Islam yang ramah, mandiri, dan berwawasan kebangsaan. Untuk warga Nahdlatul Ulama setanah air, selamat menyongsong Muktamar NU ketiga puluh lima.

Sumber: