Alasan Kurma Jadi Buah Terbaik untuk Berbuka Puasa saat Ramadan
-Ilustrasi (sumber foto: AI)-
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Setiap bulan Ramadan, kurma selalu menjadi primadona saat azan Magrib berkumandang.
BACA JUGA:Wajib Stok, Ini 4 Manfaat Kurma saat Puasa Ramadan yang Perlu Diketahui
Tradisi berbuka dengan kurma bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, tetapi juga memiliki alasan kesehatan yang kuat. Buah kecil berwarna cokelat ini menyimpan banyak manfaat yang sangat cocok untuk kondisi tubuh setelah berpuasa seharian.

Mini Kidi Wipes.--
Secara medis, tubuh yang berpuasa selama kurang lebih 12–14 jam mengalami penurunan kadar gula darah.
Di sinilah kurma berperan penting. Buah dari pohon Phoenix dactylifera ini mengandung gula alami seperti glukosa dan fruktosa yang mudah diserap tubuh, sehingga mampu mengembalikan energi dengan cepat tanpa membuat perut terasa “kaget”. Karena itulah banyak ahli gizi menyarankan untuk berbuka dengan makanan manis alami sebelum menyantap hidangan utama.
Selain menjadi sumber energi cepat, kurma juga ramah untuk lambung. Setelah kosong cukup lama, lambung membutuhkan asupan yang ringan dan mudah dicerna.
BACA JUGA:Selain Kurma, Ini Sederet Makanan Sehat yang Disebut dalam Al-Qur'an
Tekstur kurma yang lembut serta kandungan serat alaminya membantu sistem pencernaan bekerja secara perlahan dan bertahap.
Sebaliknya, berbuka langsung dengan makanan berat atau berminyak justru berisiko menyebabkan perut begah, asam lambung naik, dan rasa tidak nyaman. Kurma membantu tubuh bertransisi dari kondisi puasa menuju pola makan normal dengan lebih aman.
Tak hanya itu, kurma juga kaya akan nutrisi penting seperti serat untuk melancarkan pencernaan, kalium untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh, magnesium untuk mendukung fungsi otot, serta antioksidan yang membantu menjaga daya tahan tubuh.
Kandungan ini sangat dibutuhkan karena selama puasa tubuh kehilangan cairan dan energi. Dalam tradisi Islam, berbuka dengan kurma juga mengikuti anjuran Nabi Muhammad SAW.

Gempur Rokok Illegal--
Selain bernilai ibadah, kebiasaan ini ternyata selaras dengan penjelasan ilmu kesehatan modern.
Sumber:




