“Mereka cuma khawatir sama kamu.”ucap Saka.
“Tapi kenapa semua orang merasa punya hak menentukan siapa yang pantas buat aku?”geram Titi.
BACA JUGA:Cinta yang Tak Direstui (2) Di Balik Pilihan yang Dianggap Salah
Gempur Rokok Illegal--
Ruangan itu mendadak sunyi, seolah oksigen pun enggan masuk. Namun, mimpi buruk itu tak berhenti di dinding kantor. Di rumah, dinding-dinding pun ikut bicara. Orang tuanya menolak mentah-mentah kehadiran Abi, apalagi setelah tahu pria itu belum memiliki bisnis sendiri.
“Papa gak merendahkan pekerjaan siapa pun.”Ayahnya menatapnya dengan pandangan dingin yang menghakimi. “Tapi menikah itu bukan cuma soal nyaman.”imbuhnya.
Titi bungkam, dadanya sesak oleh logika-logika dingin yang dipaksakan padanya. “Kamu harus memikirkan sepuluh atau dua puluh tahun ke depan.” Ayahnya menggeleng keras, seolah masa depan adalah angka-angka di atas kertas yang sudah pasti hasilnya.
“Kenapa harus mempertaruhkan masa depan untuk menunggu seseorang menjadi siap kalau dulu kamu sudah punya Elan?”ingat Ayahnya
Nama itu lagi. Elan. Lelaki yang dipuja banyak orang, meski hanya Titi yang tahu sisi gelap di balik topeng kesempurnaannya—kengerian saat lelaki itu kehilangan kendali atas emosinya di balik pintu tertutup. (atp/rdh/fer/bersambung)