Semakin kuat cengkeraman Titi mempertahankan Abi, semakin tajam pula mata dunia menghujamnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyesakkan dada. Pilihan hatinya seolah menjadi santapan empuk bagi lidah-lidah yang tak bertanggung jawab.
Awalnya, semua itu hanya dibungkus dalam candaan yang ringan. Namun, sebuah lelucon yang diulang-ulang dengan kejam perlahan bermetamorfosis menjadi tekanan yang mencekik napas.
Siang itu, udara kantor terasa pengap. Abi melangkah masuk, membawa secangkir kopi hangat yang diracik khusus untuk Titi, sebuah ritual kecil yang selalu berhasil membuat Titi merasa istimewa di tengah dunianya yang bising. “Ini, less sugar. Seperti biasa.”ucap Abi pelan.
Titi menyambutnya dengan senyum tipis, secercah cahaya di matanya yang mulai meredup. “Terima kasih.”senyum tulus terukir di wajah Titi.
Namun, kehangatan itu tak bertahan lama. Belum sempat Abi berbalik, pintu ruang rapat terbuka, menyemburkan Saka dan Ija ke tengah ruangan dengan tatapan sinis.
BACA JUGA:Cinta yang Tak Direstui (1): Bukan Kemewahan, Hanya Secangkir Kedamaian
Mini kidi--
Ija terkekeh, suaranya tajam menusuk gendang telinga. “Wah, delivery khusus nih.”celetuk Ija.
Saka menimpali dengan nada meremehkan yang sulit disembunyikan.
“Enak juga punya pacar barista. Kopi gratis tiap hari.”ucap Saka
Abi terdiam. Ia menunduk, menyembunyikan luka yang menganga di balik senyum tipisnya. Ia paham betul, di mata mereka, dirinya hanyalah badut yang tak punya tempat di liga Titi.
“Saya balik dulu,” kata Abi pelan.
Titi hanya bisa mengangguk, membiarkan punggung pria itu menghilang ditelan bayang-bayang. Namun, suara Ija menyusul, memburu kesadarannya. “Ti, serius deh. Kamu gak sayang sama masa depanmu?”ucap Ija
“Maksudmu?”Titi tersentak, menoleh dengan dahi berkerut. “Ya realistis saja. Kamu legal, kariermu bagus. Masa pasanganmu…” Ija menggantung kalimatnya, membiarkan kesunyian yang menghina menuntaskan maksudnya. Titi bangkit, kemarahan mulai menjalar di pembuluh darahnya. “Pasanganku kenapa?”tanya Titi.
Saka buru-buru maju, mencoba menutupi bara dengan alasan basi.