iklan HUT R!

Cinta yang Tak Direstui (6): Restu yang Datang Bersama Waktu

Cinta yang Tak Direstui (6): Restu yang Datang Bersama Waktu

ilustrasi sejuta kisah rumah tangga--

Keputusan itu ternyata belum menyelesaikan semuanya. Di kantor, candaan masih terdengar. Suatu siang, Ija kembali berkata. “Jadi benar kamu tetap pilih Abi?”ujar Ija. “Iya.”Titi menatapnya.

Saka yang berada di sampingnya tersenyum kecil. “Padahal kalau dibandingkan sama Elan…”ucap Saka.

“Jangan dibandingkan.”Titi memotong kalimatnya. Ruangan mendadak hening. “Elan punya bisnis. Abi barista. Aku tahu. Tapi kalian cuma melihat pekerjaan mereka.” Titi menarik napas. “Kalian gak pernah berada dalam hubunganku. Kalian gak tahu siapa yang membuatku takut dan siapa yang membuatku tenang.”ucap Titi

Ija terdiam. Saka pun tidak lagi tersenyum. “Jabatan bisa berubah. Penghasilan bisa berubah. Bisnis bisa bangkrut. Karier bisa naik.” Titi menatap kedua temannya. “Tapi cara seseorang memperlakukan kita… itu yang akan kita bawa pulang setiap hari.”cerca Titi.

BACA JUGA:Cinta yang Tak Direstui (5): Ketulusan yang Tak Bisa Dibeli


Mini kidi--

Sejak hari itu, tidak ada lagi candaan tentang Abi di hadapannya. Beberapa bulan kemudian, Abi mengajak Titi ke sebuah tempat kecil. Hanya sebuah kios sederhana yang belum selesai direnovasi. Di atas meja ada sebuah mesin kopi bekas. “Ini apa?”Titi melihat sekeliling.

Abi tersenyum. “Tempat pertamaku.”ucap Abi. “Serius?”Titi membeku. Abi mengangguk. “Masih kecil. Modalnya juga belum banyak. Tapi aku mau mulai.”ucap Abi.

Mata Titi berkaca-kaca. Bukan karena Abi kini memiliki usaha, bukan pula karena akhirnya ia bisa membuktikan sesuatu kepada orang-orang yang pernah merendahkannya, melainkan karena Abi tidak pernah menjadikan penolakan sebagai alasan untuk membenci, melainkan menjadikannya alasan untuk bertumbuh.

Restu orang tua Titi pun tidak datang dalam semalam. Ayahnya masih menyimpan keraguan, ibunya masih bertanya tentang masa depan. Namun Titi tidak lagi memaksa mereka menerima Abi.

Ia hanya berkata, “Papa, Mama boleh khawatir.”. “Tapi izinkan aku menilai seseorang bukan hanya dari apa yang dia punya hari ini.”ucap Titi. Ayahnya terdiam. “Kalau nanti kamu salah memilih?”tanya Ayah Titi. Titi tersenyum. “Kalau aku salah, biarkan itu menjadi pelajaran dari pilihanku sendiri.”ucap Titi.

BACA JUGA:Cinta yang Tak Direstui (4): Sumpah Sunyi Seorang Barista


Gempur Rokok Illegal--

Setahun kemudian, kedai kecil Abi belum berubah menjadi bisnis besar. Ia masih membuat kopi sendiri, masih membersihkan meja, masih menghitung pemasukan setiap malam.

Sumber:

Berita Terkait