iklan HUT R!

Cinta yang Tak Direstui (2) Di Balik Pilihan yang Dianggap Salah

Cinta yang Tak Direstui (2)  Di Balik Pilihan yang Dianggap Salah

ilustrasi sejuta kisah rumah tangga pertemuan.--

Hembusan kebahagiaan Titi bersama Abi justru menjadi awal dari badai baru. Suatu siang di sudut pelataran kantor, Saka—sang assistant director yang juga sahabat dekat Titi—memergoki Abi sedang menjemput Titi. “Siapa pria itu, Ti?” selidik Saka dengan tatapan penuh selidik. “Dia Abi... kekasihku,” jawab Titi mantap.

Dahi Saka berkerut sinis.  “Pria barista itu?” Nada bicara Saka yang meremehkan membuat dada Titi berdesir panas. Tak jauh dari sana, Ija menyambar dengan nada tak kalah menyengat. “Yang benar saja, Ti?! Elan itu punya bisnis besar, masa depannya cerah! Lalu sekarang kau berpaling pada seorang barista?”

Cemoohan dan tawa kecil bertalu-talu menghantam perasaan Titi. “Wah, turun kasta nih!”cemooh Ija. “Nanti kalau menikah, mau makan apa? Mau hidup dari secangkir kopi?”ucapnya lagi. “Kurang apa coba si Elan itu?”Ija terus menghujani Titi dengan cemoohan.

Bahkan Saka tanpa canggung berbisik, “Kalau aku jadi kau, Ti... lebih baik aku berlutut dan balikan dengan Elan.”singgung Saka. Hati Titi menjerit kesakitan. Mereka hanya menilai Abi dari pangkat dan harta. Mereka tak pernah mau tahu bagaimana Abi memperlakukannya dengan begitu terhormat.

BACA JUGA:Cinta yang Tak Direstui (1): Bukan Kemewahan, Hanya Secangkir Kedamaian


Mini kidi--

Mereka tak pernah tahu berapa ceceran air mata yang tumpah di malam-malam kelam sewaktu ia masih menggenggam jemari Elan. Namun, hantaman paling tajam justru merobek hatinya saat berada di rumah. Begitu orang tuanya mengetahui perihal hubungan itu, guncangan hebat terjadi. “Apa pekerjaan Abi itu, Titi?!” tanya ayahnya dengan nada berat. “Dia... seorang barista, Ayah.”ucap Titi.

Seketika raut wajah sang ayah berubah kelam dan tegang. “Kau tidak sedang bergurau, kan? Kau wanita berpendidikan tinggi, punya jabatan bagus di perusahaan! Mengapa kau jatuhkan pilihanmu pada pria kelas bawah seperti itu?!” “Tapi Abi pria yang sangat baik, Yah...” bela Titi dengan suara bergetar.

Ibunya menghela napas panjang, tatapannya dingin. “Kepribadian yang baik saja tidak cukup untuk memberi makan rumah tangga, Titi!”. Lagi-lagi, nama Elan gaung-bergema di ruangan itu. “Elan itu pengusaha!”. “Elan sudah mapan!”. “Elan punya masa depan yang pasti!”.

BACA JUGA:Suamiku Tergoda Janda Kaya (6): Penyesalan Terlambat dan Karma Sang Lelaki Kufur


Gempur Rokok Illegal--

Malam itu, Titi mengurung diri di dalam kamar. Air matanya deras menetes membasahi bantal. Alangkah ironisnya garis hidup ini. Dulu, sewaktu bersama Elan, ia menangis karena ulah pria yang dicintainya. Kini, bersama Abi, ia justru meratapi nasib karena dunia membenci pria yang sanggup membahagiakannya.

Denting! Ponsel di atas meja bergetar. Sebuah pesan singkat dari Abi masuk: “Jika memang seluruh dunia tak merestui hubungan kita... apakah kau masih sudi bertahan bersamaku, Ti?” Titi menatap layar kaca itu dengan tatapan kosong. Jarinya terpaku, tak sanggup mengetikkan jawaban.

Untuk pertama kalinya, Titi menyadari bahwasanya ia kini berdiri di persimpangan jalan yang teramat kejam: memilih jalan hidup yang dianggap sempurna di mata semua orang... atau memilih pria yang sanggup mencintainya dengan kehangatan sejati yang selama ini ia impikan. Dan Titi tahu betul, badai penolakan terhadap sosok Abi... barulah sebuah permulaan. (atp/rdh/fer/bersambung)

Sumber: