Cinta yang Tak Direstui (4): Sumpah Sunyi Seorang Barista
ilustrasi sejuta kisah rumah tangga--
Seolah takdir belum cukup mempermainkannya, Elan muncul di kantor Titi, membawa sekuntum bunga dan topeng penyesalan yang tampak meyakinkan. “Titi, aku cuma mau bicara.”ucap Elan. “Tentang apa?”tanya Titi. “Aku berubah.”ujar Elan. “Orang yang berubah gak perlu mengumumkan dirinya berubah, Lan.”Titi tertawa getir, hatinya sudah mati rasa.
Elan terdiam sesaat, namun matanya tetap tajam. “Aku masih sayang sama kamu.”tegas Elan. Titi mencoba beranjak, namun kalimat berikutnya mengunci kakinya ke lantai. “Aku dengar kamu sekarang sama Abi.”ucap Elan.
Titi menoleh, menatap sosok yang dulu pernah menjadi dunianya. “Terus?”tanya Titi. Elan menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyum yang menghina. “Kamu serius mau sama dia?”ucap Elan. Kalimat itu merobek pertahanan Titi. Bukan karena ia setuju dengan Elan, tapi karena kata-kata itu adalah cermin dari apa yang diteriakkan dunia kepadanya.
Orang tuanya, teman-temannya, bahkan mantan kekasihnya—semua sepakat bahwa Abi bukanlah orang yang tepat. Keraguan pun merayap pelan, merusak ketenangan batinnya. Malam itu, di sebuah warung sederhana, Titi menatap Abi yang baru saja melepaskan seragam kerjanya. Pria itu menyadari ada badai di mata Titi. “Kamu kenapa?”tanya Titi. “Gak apa-apa.”jawab Abi. “Titi.”ucap Abi.
BACA JUGA:Cinta yang Tak Direstui (3): Ketika Lidah Tak Bertulang Mengadili Pilihan

Mini kidi--
Titi membiarkan keheningan menyiksa mereka, sebelum akhirnya bertanya dengan suara gemetar. “Bi… kamu punya rencana hidup gak?”tanya Titi. “Maksudnya?”Abi menatapnya dalam, seolah mencari jawaban atas nasib mereka. “Ya… lima tahun lagi kamu mau jadi apa?”tanya Titi. “Ini pertanyaan kamu atau pertanyaan orang-orang?” Senyum pahit tersungging di bibir Abi.
Titi membeku, dadanya terasa nyeri. “Aku cuma ingin tahu.”ucap Titi. Abi mengangguk pelan, menerima realita yang kejam. “Aku memang cuma barista sekarang.”ucap Abi. “Jangan bilang cuma.”ucap Titi. “Tapi itu yang semua orang pikirkan, kan?”ucap Abi.
Titi bungkam. Abi menatap perempuan yang ia cintai itu dengan sisa-sisa keberanian. “Aku mungkin gak punya bisnis seperti Elan. Aku juga gak punya jabatan seperti teman-teman kantormu.”jelas Abi. “Tapi aku kerja. Aku punya mimpi. Dan aku sedang berusaha.” Suara Abi pecah, bergetar di udara malam yang dingin.
“Yang aku gak bisa lakukan adalah menjadi Elan hanya supaya semua orang menganggap aku pantas buat kamu.”tegas Abi. Titi menunduk, membiarkan air mata jatuh membasahi pipinya yang pucat. Kemudian, sebuah kalimat keluar dari bibir Abi, menghujam tepat di ulu hati Titi.
BACA JUGA:Cinta yang Tak Direstui (2) Di Balik Pilihan yang Dianggap Salah

Gempur Rokok Illegal--
“Kalau suatu hari kamu meninggalkan aku karena kamu sudah gak cinta, aku terima.”Abi menarik napas panjang, mencoba menahan isak yang tertahan. “Tapi jangan tinggalkan aku karena kamu malu sama pekerjaanku.”tegas Abi.
Titi pulang dengan kepala yang hendak meledak. Di depannya terbentang dua jalan: Abi, pelabuhan sederhana yang menenangkan, atau Elan, janji manis yang menyimpan duri. Dunia terus menabuh genderang yang sama: Abi tidak sepadan.
Di depan cermin kamarnya, Titi menatap bayangan dirinya sendiri, bertanya-tanya: apakah ia sedang memikirkan masa depan, atau ia hanyalah korban dari standar hidup yang dipaksakan orang lain?. Sementara itu, di kejauhan, Abi telah menanggalkan keraguannya. Malam itu, ia mengambil sebuah sumpah dalam sunyi. Ia tak lagi butuh pengakuan dari Saka, Ija, orang tua Titi, atau bahkan Elan.
Ia akan membuktikannya—bukan demi siapa pun, melainkan demi pembuktian diri atas harga dirinya yang tersisa. (atp/rdh/fer/bersambung)
Sumber:





