Cinta yang Tak Direstui (5): Ketulusan yang Tak Bisa Dibeli
ilustrasi sejuta kisah rumah tangga menyendiri--
Malam itu, di sudut kedai yang mulai berbau harum biji kopi pilihan, gerimis turun tanpa izin. Mengetuk kaca jendela seolah ikut meratapi nasib orang-orang yang gampang menilai buku dari sampulnya.
Abi tidak pergi. Lelaki itu tidak pernah lenyap ditelan bumi atau hilang ditelan gengsi.
Setiap pagi, sebelum mentari sempat menguapkan embun di pucuk daun, ia sudah berdiri di balik mesin espresso. Aroma biji kopi melekat erat di seragam kerjanya—bau perjuangan yang jujur, bukan bau parfum mahal dari kursi empuk ber-AC sentral.
Tapi ada yang beda dari Abi. Lelaki itu berhenti merengek pada nasib. Diam-diam, di sela-sela lelahnya berdiri sepuluh jam, ia rajin membaca buku bisnis, mencatat modal, dan merajut rencana kecil yang selama ini cuma tersimpan di kepalanya.
BACA JUGA:Cinta yang Tak Direstui (4): Sumpah Sunyi Seorang Barista

Mini kidi--
Suatu malam Titi bertanya, “Kamu melakukan semua ini karena Papa?”.
Abi menggeleng. "Karena aku.”ucap Titip. Abi kembali menggeleng.
“Karena teman-temanku?”tanya Titi. "Bukan.”jawab Abi. "Lalu?”tanya Titi lagi.
Abi tersenyum. “Aku gak mau sukses supaya dianggap pantas jadi pacarmu.”jelas Abi. "Aku ingin berkembang karena hidupku memang harus bergerak.”ucap Abi menggenggam tangan Titi.
Jawaban itu membuat Titi terdiam. Untuk pertama kalinya, ia memahami perbedaan antara lelaki yang ingin terlihat berhasil dan lelaki yang sedang berusaha bertumbuh.
Sore berikutnya, di sebuah kafe remang-remang yang teramat mewah, bayangan masa lalu datang menagih janji. Elan kembali menemuinya. Tidak membawa bunga. Tidak pula memaksanya kembali.
BACA JUGA:Cinta yang Tak Direstui (3): Ketika Lidah Tak Bertulang Mengadili Pilihan

Gempur Rokok Illegal--
“Aku cuma ingin minta maaf.”ucap Elan. “Untuk apa?”Titi menatapnya. “Untuk semua hal yang dulu aku lakukan.” Elan menghela napas.
“Aku pikir selama aku bisa kasih kamu semuanya, aku boleh marah sesukaku.”ucap Elan. “Aku pikir kamu akan selalu bertahan.”imbuh Elan.
“Aku hampir bertahan.”Titi tersenyum pahit.
Elan menatapnya.
“Kalau sekarang aku benar-benar berubah, masih ada kesempatan?”suara Elan bergetar, meredah separuh memohon.
Pertanyaan itu membuat Titi terdiam. Enam tahun bukan waktu yang singkat. Ada terlalu banyak kenangan bersama Elan. Ada keluarga yang sudah saling mengenal. Ada kehidupan yang dulu hampir mereka bangun. Namun ada juga terlalu banyak malam ketika Titi pulang dengan air mata.
“Aku memaafkan kamu, Lan.”ucap Titi.
BACA JUGA:Cinta yang Tak Direstui (1): Bukan Kemewahan, Hanya Secangkir Kedamaian
Mata Elan berbinar. Ia melangkah semakin mendekat, meraih jemari Titi. “Tapi aku gak mau kembali.”ucap Titi menggeleng pelan
Senyum Elan perlahan menghilang. “Karena Abi?”tanya Elan.
Titi menggeleng. “Karena aku akhirnya belajar mencintai diriku sendiri.”ucap Titi mengakhiri pengharapan Elan.
Mendengar kalimat itu, pundak Elan merosot jatuh. Tidak ada lagi nada mendesak, tidak ada lagi amarah yang tersisa di matanya.
Elan menatap Titi untuk terakhir kalinya, mengangguk kecil dengan senyum hampa yang dipaksakan. Ia berbalik, melangkah pergi meninggalkan kafe itu, membawa serta sisa-sisa bayangan masa lalu yang resmi ia ikhlaskan runtuh.
Di bawah temaram lampu jalan, Elan sadar bahwa kehilangan Titi adalah harga paling mahal yang harus ia bayar atas keangkuhannya sendiri. (atp/rdh/fer/bersambung)
Sumber:





